Level Up!

Pernah gak sih, saat lagi struggling menghadapi suatu cobaan, kalian teringat kalo dulu sebelumnya juga pernah tertimpa cobaan yang sekiranya setipe, tapi saat ini, si cobaan dahulu itu, kita anggap masih lebih mudah?

Contohnya, dulu waktu kuliah, kayaknya deg-deg-an banget nyiapin presentasi buat seminar TA. Padahal yah, yang dateng temen-temen yang udah dikenal juga, TA-nya yang udah dikerjain dalam waktu setahun juga, tapi waktu itu smerasa seperti ‘diz iz my biggest presentation evahh!’. Tapi setelah itu muncullah sidang, yang tentunya lebih besar lagi, dan predikat ‘my biggest presentation evah’ mulai berpindah tempat. Lalu saat mulai kerja, ada saatnya ‘terpaksa’ (as a form of survival in the company, yes) untuk mengambil tantangan nyobain suatu software baru sekaligus nyiapin sales presentation-nya, terus harus presentasi di depan orang-orang yang bahkan mungkin baru dikenal saat itu juga.

Lalu mulai berpikir, betapa dulu waktu kuliah, masih belum ada apa-apa-nya.

Kemudian sekarang, nyiapin presentasi, in english, buat disampaikan ke orang asing, yang ada di negeri asing juga, dengan topik yang sebenernya belum terlalu familiar, tapi itu lagi gress banget pengembangannya.

Lalu jadi tersadar, bahwa yang dilakukan di kerjaan, sebenernya masih belum ada apa-apanya juga.

Maka selamat, tandanya sedang level up! Maksudnya cobaan yang diterima sekarang, sudah lebih berat dari sebelumnya. Artinya, despite all the stresses and anxieties, diri ini sesungguhnya sedang berjalan ke arah yang lebih baik. Ke level yang lebih tinggi.

Mungkin gak kelihatan, karena selama ini melihatnya ke atas terus.

Dan di suatu malam yang dingin dan penuh distraksi ini, memutuskan untuk menoleh sebentar ke bawah, dan mendokumentasikannya pada blog samfah ini.

Alhamdulillah, reaksinya masih ‘alhamdulillah’ saat menoleh ke bawah.

Semoga bisa level up terus ya. Amiin.

BvS atau Civil War?

Assalamu’alaikum… ohok-ohok. Kalo blog ini rumah, tebel debu yang nutupin udah 3 senti, kali. Yup. Udah 3 tahun sejak post saya yang terakhir, dan saya kembali dengan judul: BvS vs Civil War.

Wut. Is that really the best that you can do, Ly?

I dunno. Memangnya seharusnya diisi apa? Update kehidupan? Aih. Nggak ah, jaman sekarang banyak stalker. Ku takut. Hiiy.

Okelah. Kita masuk aja ke bahasannya.

Continue reading “BvS atau Civil War?”

Dibalik Pria Jenius Ada Wanita Yang Lebih Jenius

–salah satu pelajaran yang saya petik setelah menjadi penggemar setia Sherlock BBC.

Di Episode 3 Season 3 diceritakan bahwa Sherlock dan kakaknya Mycroft itu lahir dari rahim seorang matematikawan jenius yang menyerahkan karirnya untuk mengurusi anaknya. So, what? mungkin begitu bagi sebagian banyak orang, apalagi ini kan cuma cerita fiktif. Hmmm. Tapi ada satu hal yang menarik perhatian saya dari kemarin, membuat saya jadi merenung, merisau, hingga akhirnya menulis. Cailah. Bukan, bukan penasaran kenapa ibunya matematikawan kok anaknya malah jadi consulting detektif dan anggota MI6. Bukan juga saya berpikir kejeniusan itu genetik jadi bisa diwariskan. Tapi ada satu pertanyaan yang bikin pikiran saya jadi mengawang;

Gimana kalo ibunya Sherlock memilih untuk meneruskan kariernya sebagai peneliti? Apakah Sherlock dan Mycroft akan tumbuh kembang menjadi orang yang sejenius ini?

Saya adalah seorang yang gak percaya-percaya amat kalo kepribadian manusia sebagian besar dipengaruhi oleh faktor genetik. Jadi jawaban saya untuk pertanyaan soal emak Sherlock di atas; kayaknya nggak. One thing led to another, saya malah jadi mikir tentang wanita jaman sekarang. Emansisapi yang heboh. Perempuan disamakan kedudukannya dengan pria dalam hal mengenyam pendidikan. Walhasil, sekarang banyak pekerjaan yang dulu hanya dilakukan oleh pria, jadi dilakukan wanita juga.

Gak ada yang salah sebenernya. Malah saya sendiri juga korban emansisapi tersebut. Kuliah di Fakultas yang perbandingan gendernya lumayan ekstrim. Sebenarnya yang jadi masalah bukan itu. Boleh-boleh aja malah bagus kalau perempuan pendidikannya tinggi. Yang jadi masalah adalah, kalo setelah perempuan itu lulus, terus dia kerja cuma bentar lalu menikah dan jadi ibu rumah tangga, society will judge like:

Udah capek-capek sekolah tinggi tapi ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga juga, percuma!

Saya kesel banget-nget-nget sama orang yang berpikiran kayak gitu. Kalo kamu yang baca tulisan ini termasuk orang yang berpikir kayak begitu, mendingan udahan aja deh baca tulisan ini. Saya sebel sama kamu. Continue reading “Dibalik Pria Jenius Ada Wanita Yang Lebih Jenius”

Akulah Sang Trendsetter

Ini adalah sebuah rincian tentang beberapa hal yang telah saya lakukan dalam hidup saya di suatu waktu, kemudian pada selisih waktu berikutnya (selisih biasanya dalam tahun) khalayak ramai berbondong-bondong mulai melakukan hal yang sama.

1. Pake modem broadband

Yang ini waktu saya kelas 3 SMP. Sebenarnya inovasi ini adalah ide bapak saya, karena dia yang lebih intens mengamati perkembangan teknologi networking di negri ini (karna emang pekerjaannya juga sih). Disaat teman-teman masih berkutat pada internet telepon, saya dengan bangganya pake internet broadband. Waktu itu ISPnya IM2. Kuota 1 GB/ bulan, harga 350rb. Modem gratis kalo udah 3 bulan pemakaian. Muahall banget kan? Tapi kata bapak saya ini lebih worth it. Soalnya, keluarga saya kan sering pergi-pergian ke Bandung (tiap 2 minggu sekali waktu masih ada opa-oma sama nenek), jadi bisa dipake dimana aja, mobile cenah.

Meskipun mahal, tapi cepet pisan! Kecepatan download literally nyampe 3.5 Mbps! Inget banget waktu itu download lagu The Corrs yg 7 MBan cuma 2 detik. Wow. Mungkin itu internet tercepat yg pernah saya rasakan selama hidup saya.

Tapi sayang beribu sayang, kecepatan internet IM2 makin menurun seiring dengan bertambahnya user internet broadband saat ini. Hingga akhirnya saya harus move on, ganti ISP. Malah IM2 sendiri udah gak ada, CEOnya pun diusut KPK. Hiks. Padahal yg jadi pioneer internet broadband di negeri ini doi loh. Continue reading “Akulah Sang Trendsetter”

Wasabi; the strangest eatable thing I’ve ever eaten.

Dari dulu saya penasaran banget sama rasa wasabi. Mulai penasaran banget waktu SMA, nonton suatu film di TV (lupa judulnya apa), ceritanya tentang seorang polisi dari Perancis yang pergi ke Jepang karena ternyata dia harus ngurusin warisan mantan pacarnya orang Jepang yang udah meninggal dan ternyata diam-diam membesarkan anaknya.

Intinya si polisi itu harus nemuin anaknya yang udah gede itu di Jepang dan blablabla bukan itu yang mau saya bahas. Si polisi itu pergi ke restoran Jepang, nemu saus warna ijo, terus dia makan dan ternyata dia suka. Katanya namanya wasabi. Si polisi itu terus makanin wasabi, jadi kayak cemilan gitu. Saya kabita. Malah jadi berkhayal, eh apa beneran enak ya? atau kayak apa ya rasanya? kok warnanya ijo-ijo gitu.

Secuil wasabi.

Selanjutnya saya nonton film Cars 2. Si Mater pergi ke pesta di Jepang dan makanin wasabi kebanyakan terus kepedesan. Saya makin penasaran sama rasa wasabi. Sepedes apa sih? Sepedes cabe ijo gak ya? pikir saya begitu. Continue reading “Wasabi; the strangest eatable thing I’ve ever eaten.”

Insiden Epik di Bandung Airshow 2012

Bandung Airshow 2012 diselenggarakan pada tanggal 27 – 30 September 2012 di Lanud Husein Sastranegara. Sebagai mahasiswa teknik penerbangan yang cuma pernah megang pesawat MIG-21 (yang ada di hanggar kampus), hanya punya pengalaman sekali naik pesawat, dan belum pernah liat atraksi aerobatik secara live seumur hidup, saya pengen banget dateng kesana. Terus saya lihat jadwalnya, ternyata buat atraksi aerobatik itu dilakuin tiap pagi alias sekitar jam 9 sampai jam 12 siang. Nah. Sebenarnya hari Kamis saya bisa aja sih kesana, tapi karena alasan kemageran akhirnya saya memilih hari Sabtu.

Jum’at

Taunya hari Jum’at dua orang temen saya ngajakin kesana, tapi sekitar jam 2an. Karena deket dari rumah dan katanya harga tiket buat pelajar dan mahasiswa pas hari Jum’at itu 5rebu,  jadi yah-sudah. Meskipun gak akan nonton aerobatik, liat static show sama pameran bakal seru kali yak. Yah-sudah.

Ternyata eh ternyata baru nyampe sana sekitar jam setengah 4 sore. Wadzig. Terus sibuk bagi-bagiin flyer promosi acara kampus. Nyampe di tempat tiket jam 4 sore. Saat mau menghampiri Mbak dan Mas penjual tiket, mereka malah berseru, “Tiketnya habiiiss… Maaf tiketnya habiiiiss…” lalu seketika itu pun kami bertiga langsung melemah.

Dasar pada mager, udah tau tiket abis, gak bisa masuk, malah tetep diem aja di luarnya. Tapi eh tetapi tiba-tiba saja salah satu Mas-mas panitia membuka pintu masuk seraya melambai-lambaikan tangan layaknya polisi kalo lagi macet lalu seketika saja segerombolan anak SMP dan beberapa bapak-bapak atau ibu-ibu beserta anaknya masuk. Awalnya kita bertiga keheranan, apa itu tiket borongan? Tapi daripada kelamaan mikir, kita pun iseng ikut masuk ke dalam gerombolan dan akhirnya berhasil masuk! Yeah. Gratis coy!

Tapi bukan itu insiden epiknya… Continue reading “Insiden Epik di Bandung Airshow 2012”