DSLR Lens DIY Cleaning Experience: A Rookie Mistake

DISCLAIMER: Mengingat peminat fotografi cakupannya sudah dunia, maka saya akan menulis post ini dengan bahasa yang diakui UNESCO sebagai bahasa internasional: English. So, if by any chance you notice grammar mistakes in my post and that’s tingling you, feel free to remind me on the commentary box. Or if you found it but you just don’t care enough, just enjoy.

The best foolish experience is the one that can still bring out an useful insight for the others

–quote by me, created just a minute ago.

Unsurprisingly, this quote is what brought me to document this foolish experience on my blog, even though my credibility as an intelligent human being is at stake. But yes, I do this because I know, someone out there, some rookie photographer like me might still wondering about how to clean that teeny tiny fungus of his/her lens DIY-way because they are simply got no enough money or just being extremely frugal to take the lens to service center. Maybe they’re just being curious. Well, congratulations buddy, you’ve found the right article!

Continue reading “DSLR Lens DIY Cleaning Experience: A Rookie Mistake”

Pompeii

So I am up into something, these days. Something big, actually, cause it can dramatically change my whole life. Nope, it’s not marriage related thing, unfortunately. Then so.. I was rumbling through some blogs containing about this thing then end up stuck with one particular blog belongs to one man who living a life that I’ve been dreaming of. Posts through posts I read like an ultimate stalker I am, sometimes I checked this blog once a week when I have a free time in the office. It’s a simple blog, actually. Just a common journal about someone who’s been studying abroad.

Oops.

Then I came to a certain post containing some music video. It’s Pompeii, by Bastille.

So it’s a music video with some great music in there. But why bother to post it into the blog?

Continue reading “Pompeii”

Concerto vs Cornetto: The Battle Of Oreo

Kembali lagi dengan saya, sang pemilik blog yang haqiqi. Kali ini saya akan membahas review yang gak kalah penting di dunia milenial ini: es krim. Lebih tepatnya: es krim cone.

Sejujurnya bagi saya, es krim cone yang hakiki hanyalah Conello. Taburan kacangnya dan lelehan coklat yang membeku… hadeuuh. Adalah mimpi bagi setiap anak Indonesia untuk setiap pulang sekolah bisa jajan es krim Conello. Apa daya uang jajan saya saat itu seringnya cukup buat beli Paddle Pop cokelat seribuan doang. Beli Conello kalo lagi ada acara sekolah karena dianter Mamah, atau ada uang lebih sisa-sisa kemarin ajah.

The Legendary Conello

Sesungguhnya saya mencari gambar es krim Paddle Pop yang seribuan tapi gak nemu. Hiks. Masa udah gak diinget sama internet sih eskrimnya. Hiks. You are the unsung hero, my friend.

Oke lanjut.

Lalu entah bagaimana asal usulnya, mungkin saya banyak miss disini, keindahan bentuk aksisimetrik dari Conello mulai punah, tergantikan oleh coklat bulet ngabledeg di atas es krim dan namanya berubah menjadi Cornetto. Dari Taylor Swift sampai Isyana pun sempet jadi cover tutupnya. Plus warung sebelah juga menerbitkan produk yang sama, dengan nama yg mirip pula: Concerto. Kalo gak beda warna freezer (W merah dan C biru) akan ada banyak yg terkecoh. Secara packaging mirip dan jenis font juga 11 12.

Cornetto Disc Cookies and Cream

Concerto Cookies and Cream

Setelah Anda lihat, serupa tapi tak sama, bukan?? Maka di tengah kejombloan ini, saya memutuskan untuk melakukan hal yang fenomenal: membeli keduanya, membandingkan, dan menulis hasilnya di blog. Ini tulisannya.

Oke, agar objektif, saya akan membandingkan dua eskrim ini dari 3 aspek fundamental dalam eskrim cone; topping, eskrim, dan cone. Untuk harga dan porsi keduanya relatif sama. Gitu. Yuk mulai.

1. Topping

Bisa dilihat bahwa topping dua eskrim ini sama-sama berbentuk cokelat disc. Berbeza di bagian taburan atas; cornetto pakai serpihan oreo bubuk sedangkan concerto pakai semacam cokelat chip.

Lebih enak mana?

Cornetto. Rasa cokelatnya enak banget.. selevel Magnum kali ya (harus nanya ke temen yg kerja di pabrik W), taburan bubuk oreo di atasnya juga pas, menyeimbangkan rasa cokelatnya yang manis.
Sedangkan untuk Concerto.. uh. Entah udah beberapa kali, di tempat beli yg berbeda, varian Concerto yg beda pula, rasa cokelat disc-nya tuh… kayak ada rasa duren-durennya gitu. Terutama pada gigitan pertama. Sebagai certified duren-haters, saya sangat peka dalam mencium dan merasakan duren. Dan ini salah satunya. Cewa.

2. Es krim

Hal ini agak sulit milihnya, karena hampir keduanya berimbang. Meskipun beda tekstur; oreo di Cornetto lebih tebel dan lembut kayak kue dan oreo di Concerto lebih kecil dan crunchy, saya suka keduanya. Tapi yang membedakan adalah formulasi dari si eskrim vanilla tersebut.

Terus enakan mana?

Sayang sekali team C.. Cornetto harus menang lagi. Es krim vanilla-nya lebih legit nan mantap. Sama-sama bikin gendut, kan. Yaudah pilih yang legit sekalian!

3. Cone

Untuk cone ini ada perbedaan. Cornetto cone biasa warna cream, sedangkan Concerto cone rasa cokelat/oreo yah lupa warna cokelat. Rasanya? Saya lebih cocok sama Concerto… entah rasa cone yang agak ke dark cokelat menurutku bisa menyeimbangkan rasa eksrim dan cokelatnya yang manis.

Final Score

Jadi final score adalah: Cornetto 2 – Concerto 1. Yang menang Cornetto~ All hail Taylor Swift, Selena Gomez, Isyana Sarasvati, dan semua artis wanita yang pernah jadi cover tutup Cornetto!

Saya sendiri sebenarnya tidak memihak sisi manapun, hanya ingin membandingkan dan mengupas tuntas tentang dunia eskrim yang kadang terlupakan ini. Akhir kata saya ucapkan terima kasih, moga review ini dapat membantu Anda untuk lebih bijak dalam memilih eskrim.

Salam.

Level Up!

Pernah gak sih, saat lagi struggling menghadapi suatu cobaan, kalian teringat kalo dulu sebelumnya juga pernah tertimpa cobaan yang sekiranya setipe, tapi saat ini, si cobaan dahulu itu, kita anggap masih lebih mudah?

Contohnya, dulu waktu kuliah, kayaknya deg-deg-an banget nyiapin presentasi buat seminar TA. Padahal yah, yang dateng temen-temen yang udah dikenal juga, TA-nya yang udah dikerjain dalam waktu setahun juga, tapi waktu itu smerasa seperti ‘diz iz my biggest presentation evahh!’. Tapi setelah itu muncullah sidang, yang tentunya lebih besar lagi, dan predikat ‘my biggest presentation evah’ mulai berpindah tempat. Lalu saat mulai kerja, ada saatnya ‘terpaksa’ (as a form of survival in the company, yes) untuk mengambil tantangan nyobain suatu software baru sekaligus nyiapin sales presentation-nya, terus harus presentasi di depan orang-orang yang bahkan mungkin baru dikenal saat itu juga.

Lalu mulai berpikir, betapa dulu waktu kuliah, masih belum ada apa-apa-nya.

Kemudian sekarang, nyiapin presentasi, in english, buat disampaikan ke orang asing, yang ada di negeri asing juga, dengan topik yang sebenernya belum terlalu familiar, tapi itu lagi gress banget pengembangannya.

Lalu jadi tersadar, bahwa yang dilakukan di kerjaan, sebenernya masih belum ada apa-apanya juga.

Maka selamat, tandanya sedang level up! Maksudnya cobaan yang diterima sekarang, sudah lebih berat dari sebelumnya. Artinya, despite all the stresses and anxieties, diri ini sesungguhnya sedang berjalan ke arah yang lebih baik. Ke level yang lebih tinggi.

Mungkin gak kelihatan, karena selama ini melihatnya ke atas terus.

Dan di suatu malam yang dingin dan penuh distraksi ini, memutuskan untuk menoleh sebentar ke bawah, dan mendokumentasikannya pada blog samfah ini.

Alhamdulillah, reaksinya masih ‘alhamdulillah’ saat menoleh ke bawah.

Semoga bisa level up terus ya. Amiin.

BvS atau Civil War?

Assalamu’alaikum… ohok-ohok. Kalo blog ini rumah, tebel debu yang nutupin udah 3 senti, kali. Yup. Udah 3 tahun sejak post saya yang terakhir, dan saya kembali dengan judul: BvS vs Civil War.

Wut. Is that really the best that you can do, Ly?

I dunno. Memangnya seharusnya diisi apa? Update kehidupan? Aih. Nggak ah, jaman sekarang banyak stalker. Ku takut. Hiiy.

Okelah. Kita masuk aja ke bahasannya.

Continue reading “BvS atau Civil War?”

Dibalik Pria Jenius Ada Wanita Yang Lebih Jenius

–salah satu pelajaran yang saya petik setelah menjadi penggemar setia Sherlock BBC.

Di Episode 3 Season 3 diceritakan bahwa Sherlock dan kakaknya Mycroft itu lahir dari rahim seorang matematikawan jenius yang menyerahkan karirnya untuk mengurusi anaknya. So, what? mungkin begitu bagi sebagian banyak orang, apalagi ini kan cuma cerita fiktif. Hmmm. Tapi ada satu hal yang menarik perhatian saya dari kemarin, membuat saya jadi merenung, merisau, hingga akhirnya menulis. Cailah. Bukan, bukan penasaran kenapa ibunya matematikawan kok anaknya malah jadi consulting detektif dan anggota MI6. Bukan juga saya berpikir kejeniusan itu genetik jadi bisa diwariskan. Tapi ada satu pertanyaan yang bikin pikiran saya jadi mengawang;

Gimana kalo ibunya Sherlock memilih untuk meneruskan kariernya sebagai peneliti? Apakah Sherlock dan Mycroft akan tumbuh kembang menjadi orang yang sejenius ini?

Saya adalah seorang yang gak percaya-percaya amat kalo kepribadian manusia sebagian besar dipengaruhi oleh faktor genetik. Jadi jawaban saya untuk pertanyaan soal emak Sherlock di atas; kayaknya nggak. One thing led to another, saya malah jadi mikir tentang wanita jaman sekarang. Emansisapi yang heboh. Perempuan disamakan kedudukannya dengan pria dalam hal mengenyam pendidikan. Walhasil, sekarang banyak pekerjaan yang dulu hanya dilakukan oleh pria, jadi dilakukan wanita juga.

Gak ada yang salah sebenernya. Malah saya sendiri juga korban emansisapi tersebut. Kuliah di Fakultas yang perbandingan gendernya lumayan ekstrim. Sebenarnya yang jadi masalah bukan itu. Boleh-boleh aja malah bagus kalau perempuan pendidikannya tinggi. Yang jadi masalah adalah, kalo setelah perempuan itu lulus, terus dia kerja cuma bentar lalu menikah dan jadi ibu rumah tangga, society will judge like:

Udah capek-capek sekolah tinggi tapi ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga juga, percuma!

Saya kesel banget-nget-nget sama orang yang berpikiran kayak gitu. Kalo kamu yang baca tulisan ini termasuk orang yang berpikir kayak begitu, mendingan udahan aja deh baca tulisan ini. Saya sebel sama kamu. Continue reading “Dibalik Pria Jenius Ada Wanita Yang Lebih Jenius”