Pernikahan / Marriage / けっこん

Ehm. Akhirnya ada pembahasan beginian juga di blog ini.

Sebagai wanita single jelang 25 tahun (uhuk-udah-tua-uhuk), tentunya topik ini menjadi pikiran di otak saya tiap hari. Gak tau deh kalau lelaki gimana. Yaaah sudah lulus kuliah, punya pekerjaan tetap, selanjutnya apa lagi sih tuntutan dari lingkungan sosial? Yha pasti menikah. Tentunya hal ini bakalan jadi pertanyaan bulan-bulanan yang mencapai puncaknya pada waktu Lebaran. Ah, tapi saya gak mau membahas itu sih, gak akan ada habisnya. Di post ini saya akan membahas: Apa sih, sebenernya pernikahan itu di mata saya?

Pernikahan / Marriage / けっこん

Kenapa ditulis tiga bahasa? Karena saya harap tiga bahasa ini akan menjadi native tongue saya nanti (walaupun bahasa tentunya sudah). Wait but why–ada deh, tunggu nanti. Nearly out-of-topic–oke lanjut ajah kalo pun masih ada yang baca ini post–buat saya, apa sih pernikahan itu?

Marriage is a tricky bastard.

Whoa, slow down, gurl! It’s what you’ve must been saying after reading above quoted sentence. Tapi emang bener deh. Coba dipikir urutan tiga pertanyaan keontji dari sodara-sodara Anda waktu Lebaran; kapan lulus, kapan dapat kerja, kapan nikah. Nah. Nikah ini adalah suatu tahap yang sangat tricky, penuh ketidakpastian, terlalu banyak variabel di dalam tahap ini. Kenapa?

Well, kalau kamu mau lulus kuliah, ya parameternya jelas: nilai, thesis, dan dosen pembimbing. Banyak yang beralasan kalo lagi sial dapet dosen killer, bisa bikin lulus tertunda. Bull-feces. Saya yaqin seyaqin-yaqinnya kalo Anda rajin dan 100% niat pengen lulus, tidak ada dosen yang tidak bisa dihadapi. Mungkin tertunda sementara, tapi akhirnya pasti bakalan lulus. Been there, done that.

Lalu yang kedua: kerja. Meskipun lebih hazy dibanding lulus kuliah–mengingat adanya sentimen dari orang HR dalam merekrut orang untuk posisi tertentu dalam perusahaan tertentu–parameternya masih temasuk jelas dan terukur. Anda bisa berlatih psikotes, interview, FGD, and all of that to land a job. Terlebih lagi, Anda bisa aja settle down untuk satu pekerjaan yang gak disukai (karena kerjaan yang Anda mau gak kunjung keterima), tapi hey, masih banyak kesempatan pula untuk lamar pekerjaan lain. Malah pengalaman Anda mengerjakan pekerjaan lain menjadi nilai plus di CV berikutnya.

Sedangkan pernikahan? Well. Meskipun rumusnya terdengar sederhana; you just have to met the right person and then bam! you marry him/her. Tapi kenyataannya gak segampang itu, men! Katanya penampilan fisik itu penting, maka manusia berlomba-lomba menjadi budak konsumerisme fashion dan beauty products untuk menarik pasangan. Tapi toh ada aja orang yang fisiknya dibawah rata-rata, jarang merawat diri, tapi bisa menikah lebih dulu dibanding orang yang mati-matian jaga penampilan fisiknya. Nah. Saya aja yang memiliki track record 97% dibilang mirip Ashanty dan 3% dibilang mirip Raisa versi chubby, masih single dan gak berprospek aja tuh hiks (lah kok malah curcol).

And the most trickiest thing about marriage: you can’t take it back. (I mean, who the hell wants a divorce?!)

Jadi bayangkan aja, di dalam 5 milyar penduduk dunia ini, kita harus bisa menemukan satu lawan jenis (iya, saya gak pro-LGBT) untuk dijadikan partner hidup kita: yang wajahnya harus kita lihat tiap hari, dari bangun tidur sampai tidur lagi, yang harus tau dimanapun keberadaan kita, menjadi partner dalam membangun dan mendidik manusia kecil yang nantinya akan jadi manusia dewasa yang berpengaruh dalam tatanan kehidupan sosial, untuk selamanya. Selama-lamanya. Well, at least sampai salah satu dipanggil Yang Kuasa.

Good Lord. What a world we live in.

Gimana pun juga, saya tetaplah manusia, Anda yang baca post ini juga manusia (mudah-mudahan yah.. ngeri juga kalo sampe ada dedemit nyasar di blog ini), maka kita tidak punya pilihan lain selain bertahan hidup dengan cara mematuhi norma yang berlaku. Memang di barat sana, tekanan untuk menikah udah gak sekeras di timur ini, tapi judging dari kemampuan Anda yang bisa terus baca blog ini, pasti Anda juga orang timur seperti saya kan. Halah.

Maka intinya adalah, mau sesulit dan sekompleks apapun itu: saya, kamu, Anda, kita semua, harus menikah.

Bagaimana caranya? Saya juga gak tau, saya belum menikah. Dan ini bukan blog tutorial. Apalagi biro jodoh. Tanya aja sama yang udah menikah? Udah nyoba berkali-kali, tapi hasilnya berbeda-beda. Emang bener kata quote-quote terkenal ala netizen: hidup itu ujian tapi persoalannya berbeda-beda setiap orang. Gak bisa nyontek. Karena setiap orang punya cerita dan timeline hidup masing-masing.

Terlebih lagi, saya yakin, orang yang sudah menikah pun masih berpikir: apa bener pasangan ini jodoh saya? Apa pernikahan ini bisa bertahan sampai akhir hayat?

How creepy is that. Again: what a world we live in.

Jadi, pernikahan itu apa?

Saking terlalu ribetnya, saya rambling beberapa paragraf pun belum menjawab dengan jelas apa sih pernikahan itu. Haha. Oke deh, kalo gitu–terinspirasi dari sitcom favorit saya The Big Bang Theory–dijawab aja deh dengan perumpamaan:

Marriage is like a Schrödinger’s Cat Experiment

Meaning: you will never know what you gonna get, until you experienced it by yourself.

Akhir kata, saya ucapkan selamat kepada siapapun yang sedang merencanakan pernikahan ataupun yang sudah menikah, semoga semuanya sesuai dengan keinginan masing-masing.

Mengutip sebuah lirik dari band favorit saya, Kings Of Convenience, bahwasanya happiness is not at a fixed amount, sudikah saya meminta kebahagiaan dari Anda–manusia langka yang bisa nyasar dan betah baca blog ini–dalam sebuah do’a, agar saya bisa segera dipertemukan dan dipersatukan dengan lelaki yang bisa bekerja sama dengan baik dengan saya, yang bisa menghargai dan mempertimbangkan pendapat saya, untuk menjadi partner dalam membuka kotak berisi kucing itu.

Amiin.

Dan iyah, tipe idaman saya sekarang cuma itu aja: lelaki, muslim, bisa bekerja sama dengan baik bersama saya, bisa menghargai plus mempertimbangkan pendapat saya, dan setia. Mbikos marriage is about a lifetime team-work, innit? Owyeah. Screw age, marital status (duda juga takis gan), looks, body weight, nationality, race, etc. Ku gaq minta macem-macem koq, mz.

sudahtuasudahmakinrealistis.com

しつれいします。

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s