Harley and The Davidsons (2016): Miniseries Review

Halo-aloha pembaca, yang entah kalian ada atau nggak. Kini saya akan kembali dengan mereview miniseries yang ditayangin Discovery Channel, judulnya Harley and The Davidsons.

Loh, Discovery Channel? Gak salah tuh?

Yoma. Discovery ternyata gak cuma nayangin satwa liar dan pabrik-pabrik terautomatisasi canggih, mereka mulai menggarap ke ranah film autobiografi. Meskipun cuma miniseries yang isinya 3 episode, menurut saya cukup berkesan kok.

Sinopsis Singkat

Jujur, sebelum nonton series ini, saya masih ngira kalau moge Harley Davidsons itu buatan seseorang yang bernama Harley Davidson. Ternyata, pendirinya ada empat orang. Uwoh. Seperti judul miniseries ini, Harley and The Davidsons. Moge Harley yang sekarang harganya entah ratusan juta rupiah itu ternyata didirikan oleh Bill Harley, Arthur Davidson, dan Walter Davidson (William mah enggak ah, dia ikutnya pas belakangan doang). Mereka bertiga bukan orang kaya dari sono-nye, melainkan mulai dari bawah banget. Ini nih yang membuat cerita ini menarik.

Pemeran dan Alur Cerita

Mungkin bagi sebagian orang, alurnya agak boring ya… karena minim intrik drama yang jengjengjeng begitulah. Tapi buat seorang wanita pure geek seperti saya, alurnya uwoh banget! Saya selalu fangirling desain-desain Harley yang ada di kertas-kertas itu. Gilak, rapih banget! Ya saya tau ini fiksi.. tapi saya yaqin di kehidupan nyata sebelumnya pun, desain engine-nya Bill Harley yang masih dibuat pake tangan, emang udah rapih bin ciamik macem gitu. Saya yang notabene CAD engineer pun gak yakin deh bisa gambar engine seapik dan sekontekstual itu. Huhhu.

Bill Harley Sang Engineer

Kalo dari segi pemeran, ehem, emang gak terlalu tenar. Tapi buat GoT geek seperti saya, kehadiran Michiel Huisman (Daario Naharis, GoT) sangat menghibur hati. Emang sih aktingnya konstan kayak di GoT, tapi yha tetep aja sih penyejuk mata. Haha. Oh, yang jadi Arthur juga oke. Mischievous tengil gitu karakternya. Cocok. Karakter lain ya so-so. Tapi overall ceweknya pada baru-baru dan cantik sih. Gak tau, saya ini punya sesuatu sama dandanan cewek-cewek barat tahun 1800-an. Bajunya lebih tertutup, jadi kelihatan anggun gitu. Inner beauty-nya lebih memancar gitu. Halah. Ya pokoknya saya mah suka, deh.

Walter Davidson, kalo di Game Of Thrones lebih ganteng sik. *salahfokus*

Aaand.. contemplate!

Inti saya mereview Harley and The Davidsons di blog ini bukan hanya sekedar saya suka seriesnya, suka yang main Walter Davidson, suka gambaran engine dan motornya Bill Harley, tapi karena saya menemukan pelajaran hidup di miniseries ini. Tsaaah.

Bill dan Arthur adalah kawan sejak kecil. Bill ini emang anak pinter, pure nerd gitulah. Seperti nerd pada umumnya, dia cenderung pendiam. Keluarganya lebih susah daripada keluarga Davidson. Sedangkan Arthur ini anaknya tengil, suka aneh-aneh gitulah. Kalo di miniseries, ide awal meng-attach engine ke sepeda ini dimulai dari Arthur yang kesel sepeda dia rusak mulu. Trus dia liat ada orang naik sepeda rusak tapi bisa jalan, karena pegangan ke kereta mobil. Lalu segeralah dia kasih tau si Bill, buat ngedesain engine. Si Bill yang notabene anaknya ngikut aturan aja, langsung bilang, “Gilak lu! Bikin engine mahal tauk. Duit darimana dah?”

Arthur yang anaknya emang nyeleneh, gak mau nyerah. Dia nyuri part-part yang dibutuhin buat bikin engine dari pabrik tempat Harley bekerja. Sampe ketahuan dan dipukulin ownernya, dia gak nyerah. Walhasil jadilah engine itu. Meskipun nyala sebentar doang trus meledak, karena mereka masih pake part bekas. Harus yang baru, kata Bill. Butuh duid. Akhirnya Arthur ngirim surat ke kakaknya, si Walter, yang kerja di peternakan, mau minjem duit. Arthur ini udah optimis aja gitu, bilang engine-nya bakal masspro. Walhasil datenglah Walter, yang notabene lebih dewasa (dan lebih ganteng) menuntun dua anak hilang arah tsb hingga akhirnya berdirilah salah satu sebuah perusahaan motorcycle terbesar di dunia, Harley-Davidson.

Hikmah hidup yang saya dapat di dalam miniseries ini adalah.. soal keseimbangan. Yin and Yang. Bahwasanya untuk mencapai kesuksesan, yang kita butuh adalah keseimbangan. See, Bill disini orangnya pinter banget, jenius malah. Tapi dengan karakternya yang pendiem dan cenderung ngikut aturan gak mau ambil resiko, apakah dia bakalan sukses kalo gak ketemu Arthur? Saya rasa nggak. Sukses disini, maksudnya, sampe mendirikan pabrik dengan namanya sendiri. Saya yaqin si Bill bakalan jadi pegawai biasa aja.

Begitu juga dengan Arthur, kalo gak ketemu Bill, ide-ide dan energinya gak bakal jadi realita, dan mungkin dia bakal jadi salesman biasa. Tapi saya akui, yang lebih berperan sebagai katalisator disini itu Arthur, sih. Kayak, kalo gak ada orang yang cukup gila macem si Arthur nih, moge Harley gak bakalan ada.

Arthur Davidson, naturalborn salesman, sang katalisator

Terus peran Walter apa? Menurut saya, Arthur dan Harley kan masih muda penuh energi yang meletup-letup tuh saat itu. Nah, Walter ini yang membimbing mereka ke jalan yang benar. Yang dewasa dan pengambil keputusan win-win solution, karena seringkali Bill dan Arthur ini beda pendapat. Jadilah posisi CEO ini emang dipegang Walter. Meskipun ide original bukan dari dia, tapi dia lah yang berhasil memimpin dua orang, Arthur dan Bill, dan menggerakkan pabrik moge tersebut.

Ini membuat saya berpikir.. bahwa untuk menciptakan sebuah perusahaan yang sukses, awalnya kita butuh 3 inti karakter; innovative-persuasive-leadership. Beruntunglah orang-orang yang memiliki 3 karakter tersebut dalam satu diri, sebutlah Steve Jobs. Sedangkan Elon Musk, mungkin technically dia gak terlalu jago, tapi dia punya ide-ide yang inovatif dan kemampuan leadership yang begitu memancar jadi yang dia perlukan hanyalah hire orang-orang yang  lebih pinter daripada dia. Edan kan.

Tentunya sifat tahan banting, persistent, gak mudah menyerah, udah wajib lah ya. Kalo ini emang wajib dimiliki setiap orang, ya untuk survive di kehidupan milenial yang makin keras ini.

Saya sendiri, on the other side, baru ngerasa punya satu sifat aja; innovative. Itu pun gak terlalu kental yah, karena sekarang kerja udah gak terlalu diasah tuh kemampuan. Tapi di dunia kerja ini saya juga diam-diam sedang struggling mengasah 2 karakter lagi; persuasive and leadership. Meskipun kadang being persuasive makes me feel manipulative.. entahlah, mungkin masih salah aja arahnya. Masih butuh banyak belajar.

Pengennya sih ya ntar dapet jodoh yang punya dua sifat yang saya kurang; persuasive and leadership. Jadi biar nanti rumahtangga-nya gak cuma sekedar mencapai tujuan standar (bereproduksi dan masuk surga), tapi juga bisa bersinergi dengan saya, membangun sesuatu yang memberi impact positif terhadap sekitar. Ahsek. Macem Mark Zuckerberg dan Priscilla Chan gitu. Haha. Amiin dah.

Karena saya yakin, tujuan manusia di muka bumi ini bukan hanya untuk menjadi orang yang sholeh dan masuk surga sendiri, tapi juga bagaimana dengan waktu, resources dan given potential yang ada, kita bisa memanfaatkannya dan memberi dampak positif terhadap sekitar. Saya pribadi masih jauuh banget dari tujuan ini. Tapi sekarang sedang mengarahkan diri untuk ke satu tujuan, yang saya kira bisa mengcover tujuan tersebut, tapi masih banyak halang merintang dan berbagai jenis kegagalan yang kerap bikin saya pengen nyerah. Halah.

Nulis post ini sebenarnya supaya bikin saya semangat lagi.

Ayoklah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s