Dibalik Pria Jenius Ada Wanita Yang Lebih Jenius

–salah satu pelajaran yang saya petik setelah menjadi penggemar setia Sherlock BBC.

Di Episode 3 Season 3 diceritakan bahwa Sherlock dan kakaknya Mycroft itu lahir dari rahim seorang matematikawan jenius yang menyerahkan karirnya untuk mengurusi anaknya. So, what? mungkin begitu bagi sebagian banyak orang, apalagi ini kan cuma cerita fiktif. Hmmm. Tapi ada satu hal yang menarik perhatian saya dari kemarin, membuat saya jadi merenung, merisau, hingga akhirnya menulis. Cailah. Bukan, bukan penasaran kenapa ibunya matematikawan kok anaknya malah jadi consulting detektif dan anggota MI6. Bukan juga saya berpikir kejeniusan itu genetik jadi bisa diwariskan. Tapi ada satu pertanyaan yang bikin pikiran saya jadi mengawang;

Gimana kalo ibunya Sherlock memilih untuk meneruskan kariernya sebagai peneliti? Apakah Sherlock dan Mycroft akan tumbuh kembang menjadi orang yang sejenius ini?

Saya adalah seorang yang gak percaya-percaya amat kalo kepribadian manusia sebagian besar dipengaruhi oleh faktor genetik. Jadi jawaban saya untuk pertanyaan soal emak Sherlock di atas; kayaknya nggak. One thing led to another, saya malah jadi mikir tentang wanita jaman sekarang. Emansisapi yang heboh. Perempuan disamakan kedudukannya dengan pria dalam hal mengenyam pendidikan. Walhasil, sekarang banyak pekerjaan yang dulu hanya dilakukan oleh pria, jadi dilakukan wanita juga.

Gak ada yang salah sebenernya. Malah saya sendiri juga korban emansisapi tersebut. Kuliah di Fakultas yang perbandingan gendernya lumayan ekstrim. Sebenarnya yang jadi masalah bukan itu. Boleh-boleh aja malah bagus kalau perempuan pendidikannya tinggi. Yang jadi masalah adalah, kalo setelah perempuan itu lulus, terus dia kerja cuma bentar lalu menikah dan jadi ibu rumah tangga, society will judge like:

Udah capek-capek sekolah tinggi tapi ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga juga, percuma!

Saya kesel banget-nget-nget sama orang yang berpikiran kayak gitu. Kalo kamu yang baca tulisan ini termasuk orang yang berpikir kayak begitu, mendingan udahan aja deh baca tulisan ini. Saya sebel sama kamu.

Tapi gak gitu juga sih.. soalnya saya juga dulu termasuk orang yg berpikiran kayak gitu.

Okesip. Sekarang saya malah jadi sebel sama diri saya yang dulu. Lu-gue-end.

(terjun payung)

Krik. Lanjut. Jadi kenapa saya sebel sama orang yang berpikir begitu? Soalnya orang yang berpikir begitu pasti yang mikirnya kalo kerjaan ibu rumah tangga tuh gampang, gak usah sekolah tinggi bahkan gak sekolah juga bisa–cuma nyuci, ngepel, nyapu, masak, ama setrika doang. E-itu-mah kerjaan pembantu, woy! Bedain dong. Main gampangin aja. Lah, terus apa dong yang susah? Duh, kok pada lupa sih, tugas pokok dari ibu rumah tangga adalah mendidik anak-anaknya. Mendidik mah sama bapaknye juga, kali. Iya emang sama babehnye juga, bahkan bapake dalam ajaran Islam juga wajib untuk mendidik istrinya menuju jalan yang benar. Nah. Tapi coba dipikirin, ente waktu umurnya masih itungan hari, dapet makanan dari mana? Dari air susu emak, kan. Kalo ente rewel tengah malem kelaperan, yang bangun siapa? Ya emak kan. Babeh lu mau bangun apa kagak juga gak masalah buat lu, orang yang lu mau air susu emak, bukan babeh. Terus waktu ente pertama masuk sekolah, siapa yang paling rempong? Gua jamin sih ya pasti emak lu.

Inti dari konsep yang mau saya jabarin adalah.. mau kamu dari keluarga biasa (bapak kerja, ibu di rumah) atau keluarga agak biasa (bapak kerja, ibu kerja) bahkan keluarga tidak biasa (bapak di rumah, ibu kerja), ibu-lah yang paling dekat dengan kamu, karena meskipun misal ibu kerja, yang paling rempong mikirin kamu ya pasti ibu kamu. Karena memang sudah tabiatnya wanita itu lebih rempong, lebih memerhatikan detail, lebih khawatiran daripada lelaki. Makanya, untuk keluarga normal (ayah dan ibu hubungannya masih baik-baik saja), biasanya yang memiliki hubungan batin lebih dalam kepada anaknya adalah ibunya.

Nyambung ke atas, untuk keluarga normal, maka saya bisa simpulkan bahwa yang lebih berpengaruh terhadap karakter dan nasib anak, adalah didikan ibunya. Ibu memang harus nurut dan mau dididik sama suaminya (selama suaminya masih bener), tapi inget saat udah dewasa karakter lebih susah diubah, maka karakter awal dari si ibu menjadi lebih penting–hal ini yang menyebabkan lelaki lebih milih-milih soal jodoh dibanding perempuan. Makanya tugas ibu rumah tangga itu sama sekali bukan hal sepele.

Sekarang kenyataannya, anak-anak perempuan generasi ’80-’90an yang udah tumbuh kembang jadi wanita seutuhnya di awal abad 20 ini, kebanyakan memiliki mindset untuk mengejar karir setinggi-tingginya; kalau lulus harus kerja di perusahaan besar sampai jadi CEO, lulus IPK >3.5 langsung lanjutin S2 S3 ampe S4 (masa kalah sama Samsung Galaxy). Gak salah kok, malah bagus negara ini jadi makin banyak orang pinternya.

Yang jadi masalah, gimana nasib anak-anak mereka? Ya tinggal diurus sama babysitter lah. Terus ntar anaknya tiap hari lebih sering ketemu babysitter, lebih akrab sama babysitter, diajarin apa-apa ama babysitter–secara gak langsung dididik sama babysitter? Ya gak apa kalo babysitternya berpendidikan tinggi, kenyataannya kan kebanyakan nggak. Bukannya saya merendahkan babysitter ya, tapi kenapa anaknya gak diurus sama ibunya aja, yang notabene wanita karir cerdas berprestasi. Bayangin, bakal jadi apa anaknya nanti?

Dan lucunya, sadar gak sadar, kita ini wanita-wanita usia produktif di tahun 2014 ini yang banyak mengejar pendidikan tinggi dan berprestasi, adalah hasil didikan wanita generasi ’50-’60an, yang saat dulu masih memegang petuah kolot ‘perempuan itu lho ya ngurus rumah aja, Nduk’. Saya sendiri contohnya, ya gak berprestasi amat lah, tapi bisa kuliah di institut teknik yang paling top di negaranya, lahir dari seorang ibu yang rela mengorbankan karirnya untuk mengurusi anak-anaknya.

Gimana kalo ntar saya menghabiskan hidup saya merawat dan mendidik anak-anak saya? Wah, bisa punya anak yang kuliah di Caltech nih–itu juga kalo Caltech masih berstatus sebagai institut teknik terbaik dunia.

Amiin.

++++++++++++++++++++++++++++++++++

BONUS STAGE:

Emak Babehnya Sherlock
Watson, Sherlok ama Mycroft.
Jim Moriarty (gak ada hubungannya, cuma saya aja yang demen banget sama karakter ini)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s