“Akhirnya setiap hati hanya bisa kembali pasrah dalam aliran cinta yang mengalir entah ke mana. Seperti perahu kertas yang dihanyutkan di parit, di empang, di kali, di sungai, tapi selalu bermuara di tempat yang sama. Meski kadang pahit, sakit, dan meragu, tapi hati sesungguhnya selalu tahu.”

–paragraf terakhir dari sinopsis Perahu Kertas di sini.

Ya, ternyata hati memang selalu tahu, hanya selama ini tidak didengarkan. Karena kekecewaan menjadi sibuk mencari alasan maupun mencari objek lain yang notabene lebih baik hati tapi toh ternyata hanya peralihan. Tapi bagaimana bisa, sudah kecewa, kesal, sedih, marah, tapi sampai sekarang masih tetap saja dilamunkan. Meskipun sudah berlayar bertemu situ-sini, tapi tetap saja hati selalu bermuara kepada satu orang yang dulu. Bodoh? Memang.

Haruskah minta kembali?

Eits, tidak sebodoh itu juga. Kembali memegang prinsip yang dahulu pernah sempat dilepas, namun kali ini insyaAllah lebih kuat. Yakinlah tak semua budaya dan kebiasaan masyarakat umum patut dilakukan. Yakinlah bahwa hanya aturan yang di dalam Qur’an yang benar.  Dan yang terpenting, yakinlah bahwa Allah Subhaanahuwata’ala akan memberikan pelabuhan hati yang terbaik. Amiin yaa robb.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s