STK Training di LAPAN

STK atau Systems Tool Kit adalah software simulasi yang bisa menyimulasikan segala macem yang berbau aeronautics dan astronautics, kayak simulasi launching roket dari ground, tracking satellite, ground stationnya, sampe simulasi manuever pesawat terbang.. Emang, ini software tersakti yang pernah saya pake seumur hidup saya yang baru menginjak kepala dua hari Rabu akhir Mei kemarin.

Tracking satellite. Modulnye Astrogator. Bukan bikinan saya kok. Bukan.

Sebenarnya saya terbilang belum cukup umur untuk memakai STK ini, yaiyalah orang baru tingkat 2, belum dapet Astrodinamika. Tapi apalah daya pribadi yang berkarakter polos dan lugu plus gampang penasaran ini, sehingga mudah dipengaruhi oleh kakak tingkat di jurusan. Katanya gak apa-apa kalo belum tau apa-apa soal STK. Katanya ini awal yang bagus. Tapi saya merasa ada yang aneh. Terus saya ajakin ke temen-temen seangkatan saya yang lain, eeh gak ada yang mau ikutan. Mayoritas udah pada ada rencana pergi liburan ke luar kota, atau sibuk mengabdikan diri pada persiapan acara kaderisasi KMPN nanti. Saya, sebagai perempuan baik hati yang kurang mendukung acara marah-marahin junior lagi gemar menabung jadi tidak punya rencana liburan yang mahal-mahal, berpikir kalo training ini adalah agenda liburan yang unik. Well, kenapa? Karena saya banyak gak tahu disini. Saya gak tahu STK itu makenya yang bener kayak gimana. Saya gak tahu basic Astrodinamika. Saya gak tahu LAPAN yang di Rumpin itu dimana dan tempatnya kayak apa. Saya juga gak tahu ntar saya berangkatnya bareng siapa aja. Banyak yang gak tahunya kan? Bikin penasaran. Satu-satunya cara biar tahu ya harus ikutan kesana. Nah!

Jadilah saya berangkat dengan modal otak kosong dan leptop yang sudah terinstall STK berlicense Educational Only. Dateng ke kampus jam 04.30, berangkat sehabis sholat subuh. Naik mobil kampus, bersama Kak Hagorly (PN 07) sebagai pembimbing pengganti Pak Ridanto, Kang Ardi (AE 09) sesama peserta training, Pak De (PN 06) sebagai orang LAPAN, dan Pak Supir yang tak sempat ditanyakan siapa namanya.

Day 1

Perjalanan berlangsung aman dan lancar. Saya pun sebagai satu-satunya perempuan di mobil mencoba bersikap normal dan tidak banyak bicara. Hingga kami sampai di tempat peristirahatan untuk sarapan, Pak De bercerita soal gimana di LAPAN nanti, messnya yang panas plus berhantu, dan kerasnya perjalanan yang akan kami jalani selanjutnya. Hah? Iya, jadi setelah dari Tol Cipularang ini akan ada perjalanan dahsyat dan menantang untuk menuju LAPAN. Waw.

Akhirnya sampe juga di BSD City. Kita menunggu seorang bapak pegawai LAPAN yang akan jalan bareng-bareng kesana. Lalu datanglah sang Bapak, dengan mobil merah, akhirnya kita pun konvoi menuju tempat tujuan.

Jengjeng.. Bener aja. Ternyata jalan kesana bener-bener bikin mobil bergoyang-goyang. Jelek pisan euy. Untuk yang mabokan dianjurkan minum Antimo sebelum ke LAPAN yang di Rumpin ini. Selain itu, pokoknya dari BSD City terus ke jalan menuju Rumpin itu kayak… abis melalui mesin waktu. Beneran deh. BSD City itu bener-bener kota yang well organized, gedung-gedungnya bagus, jalanan mulus-mulus. Nah pas masuk ke jalan utama atau jalan raya atau apalah menuju Rumpin itu, kayak beda 20 tahun sama yang di BSD City tadi. Banyak padang rumput yang luas, rumah-rumah penduduk yang random, pemandangan seorang bapak yang sedang memandikan ayam peliharannya di tepi jalan, dan sejenisnya.

Setelah kira-kira setengah jam, sampailah kami di Pustekbang (Pusat Teknologi Terbang… sepertinya).  Mobil Avanzanya pun terparkir di depan suatu gedung. Langsung saja kami buka pintu dan hendak mengambil barang. Tapi eh ternyata, seorang Bapak yang mengemudikan mobil merah tadi (Pak Edi) berkata, ‘Belom sampe, dek!’ Sontak kami pun tersontak. Waw. Akhirnya dengan kecewa kami naik lagi ke mobil melanjutkan perjalanan minus Pak De, karena ternyata gedung tadi adalah kantornya Pak De.

Ternyata eh ternyata, Pustekbang bukanlah tujuan kami. Tujuan kami adalah Pustekroket, yang terletak di Tarogong. Dari Rumpin ke Tarogong harus melewati jalan yang lebih hardcore, karena komposisinya 70% batuan. Mobil kami pun bergoyang-goyang lagi. Bersyukur saya bukan orang yang mabokan jadi masih sehat wal’afiat ketika sampai di tujuan. Alhamdulillaah.

Setelah sampai di tujuan, ternyata langsung training. Saya pun bingung celingak-celinguk karena gedung di sana sepi dan seperti gak ada orang lain yang ikutan training. Saya tanya ke Kak Gorly sebenarnya training ini yang ikut siapa aja, apa ada mahasiswa dari universitas lain atau gimana, ternyata ia pun tak tahu. Walhasil kita mengikuti instruksi dari Pak Edi, sekalian bantu-bantuin persiapan training di sana karena saat itu masih jam 9an sedangkan training mulai jam 10an.

Lalu tiba-tiba beberapa orang datang. Saya yang memakai jahim KMPN pun ditanyain sama beberapa bapak-bapak disana, ternyata eh ternyata banyak yang dulunya PN juga. Ada angkatan 1994, 1997, 2000, 2002, sampe 2005. Ternyata eh ternyata lagi itu adalah training dari LAPAN untuk pegawai LAPAN. Jadilah saya, satu dari 2 mahasiswa di situ dan orang yang paling muda di situ. Hemm.

Training dimulai setelah seorang bule datang. Dialah Pak J. Lowe, orang dari AGI-nya langsung. Wow. Mainannya kok imporan? Iya, soalnya di Indonesia sendiri orang yang master STK sendiri bisa dibilang belum ada. Pak Lowe ini rumahnya di Maryland, USA. Dia disini untuk training satu modul aja, Astrogator, dari tanggal 28 sampai 30 Mei aja. Dua hari berikutnya katanya ganti trainer, which is seorang imporan juga, modul yang dibahas Communication.

Lalu training pun dimulai. Saya yang kemampuan bahasa inggrisnya pas-pas-an ini harus mengerahkan konsentrasi penuh supaya bisa ngerti.. untung udah sarapan. Tapi ternyata kok ternyata, saya tetep gak ngerti-ngerti amat. Ada beberapa istilah yang gak saya ngerti, akhirnya saya nebak-nebak aja apaan. Malu bertanya pun, karena hal ini adalah hal yang ingin saya tanyakan adalah hal yang sangat mendasar (atau memang dasar saya orangnya pemalu, aw). Mau bertanya pada Kak Gorly atau Kang Ardi pun takut menimbulkan kebisingan, akhirnya saya simpan dalam hati. Saya pun hanya menangkap inti bagaimana software STK ini bekerja, bisa mengikuti instruksinya, tau apa misi yang dijalankan (ngeluncurin satelit dari bumi ke suatu orbit yang eccentricitynya nol). Sudah. Ya begitu saja.

Tapi ada satu kejadian yang memilukan disini.. Saya menyadari bahwa si Akang Leptop yang sudah setia menemani perjuangan saya dari kelas 1 SMA ini menimbulkan keganjilan saat 3D view dari STK ini dizoom. Berikut keganjilannya:

Bumi dan orbit satelitnya pecah-pecah.

Saya pun jadi kelimpungan karena jadi ketinggalan trainingnya. Tanpa sadar, seorang bapak-bapak di sebelah saya yang memakai PC punya LAPAN, cekikikan ngeliat saya kelimpungan. Ia pun nyamber, ‘Hahaha kelihatan banget tuh VGAnya gak kuat..’ saya pun menjawab, ‘Eh? Ooh gitu ya.. Iya ini laptop udah lama sih Pak..’  lalu si Bapak itu lanjut keketawaan sendiri sambil sesekali menoleh ke layar leptop saya. Hiks.

Setelah menyantap makan siang yang wuenake, si Bapak ini menoleh ke saya, ‘Mau tukeran?’ saya pun hanya menjawab, “Eh??’. Si Bapak melanjutkan, ‘Kasihan itu kalau tampilannya begitu terus.. Saya bisa pake PC itu yang satu lagi.’ Akhirnya saya pun mengangguk santun seraya berkata, ‘Iya. Makasih ya Pak…’ lalu saya pun menutup sang Akang Leptop dan berpaling pada PC punya LAPAN dengan VGA berkekuatan tinggi dan beresolusi tajam. Terima kasih, Bapak. Saya gak jadi sebel sama Bapak.

Training selesai jam 5 sore, dan inilah saatnya mendapatkan jawaban atas pertanyaan, ‘nanti nginepnya dimana?’. Nah. Ternyata kami bakal nginep di mess. Tapi mess-nya itu di Rumpin, jadi setelah training kami langsung diantar Pak Edi ke mess. Wah. Teringat gosip dari Pak De yang katanya mess berhantu, saya jadi agak dag-dig-dug. Tapi ternyata messnya gak terlalu nyeremin sih. Catnya warna putih, berdebu, ada 3 kamar satu kamar mandi, satu ruang tengah yang berAC (alhamdulillah!), satu ruang tamu dan satu ruang makan yg penuh botol-botol air mineral bekas. Kak Gorly langsung memilih kamar yang di deket ruang tamu dan mengambil kasur yg ada, Kang Ardi milih tidur di ruang tengah karena ber-AC. Saya pun terpaksa milih kamar yang dekat dengan ruang tengah, karena satu-satunya kasur yang tertinggal telah terpasang di sebuah tempat tidur kayu di kamar itu.

Berbantalkan jahim, beralaskan ponco dan selimut yang dipinjam dari Kang Ardi.

Saya sesungguhnya sadar kalau agama saya menyatakan bahwa sebagai perempuan itu tidak baik untuk tinggal bersama lelaki yang bukan muhrimnya dalam satu rumah. Tapi apa dinyana, beginilah nasip seorang perempuan yang passionnya lebih cenderung ke bidang-bidang yang banyak lelaki geluti. Ini adalah resiko yang harus saya ambil. Kalo saya terus membentengi diri dan berpikiran tertutup, gimana saya mau maju? Bukan bermaksud liberal, hanya open minded. Yang penting kan iman saya sendiri sudah insyaAllah kuat, tujuannya mencari ilmu, dan temen-temen disini juga baik-baik plus sholeh-sholeh (alhamdulillah). Dan alhamdulillah semuanya juga selamat dan baik-baik saja hingga saya bisa menulis post ini sekarang.

Setelah sholat Maghrib berjamaah, kami pun berdiskusi soal hal krusial yg terbilang harus ada dimanapun mahasiswa berada; internet. Akhirnya negosiasi dilakukan, digunakanlah broadband internet saya yang ditether dari Android untuk dinikmati bersama dengan konsekuensi tidak boleh ngeyoutube dan ngedonlot.

Kami pun berkumpul di ruang tengah, berinternet, dan inilah saatnya saya mengeluarkan apa yang daritadi siang saya simpan dalam hati. Halah. Saya, yang belum dapet Astrodinamika ini ya kebingungan sama arti-arti istilah macem apoapsis, periapsis, major axis, semi major axis, GEO, GTO, dll. Akhirnya saya pun nanya dan jadilah saya dijelasin sama Kak Gorly. Saya seperti merasakan adanya titik pencerahan disini. Alhamdulillah. Mudah-mudahan training hari berikutnya lebih terang.

Situasi berubah menjadi genting ketika salah satu dari kami ingin ke kamar mandi dan ternyata air bak yang sudah diisi tadi sore raib tanpa meninggalkan bekas becek-becek di lantai kamar mandi. Loh?? Tidak hanya itu, ternyata keran pun tak bisa menyala, alias airnya mati. Kami pun keluar mess, celingak-celinguk mencari manusia yang bisa ditanya, hasilnya nihil. Hampir saja Kang Ardi berinisiatip membuka sumur yang ada di luar mess tapi terhenti ketika teringat dengan salah satu kejadian di film Sadako. Hihi. Akhirnya Kak Gorly sebagai yang sudah lulus dan paling bijak memberikan ide kalo kita harus ke pos satpam yang letaknya lumayan jauh dari mess. Alhamdulillah setelah dari pos satpam, pencerahan didapatkan. Ternyata orang yang bertanggungjawab ngurusin mess rumahnya ada di deket mess kita juga. Gubrak. Akhirnya sumber air pun kembali sudekat. Alhamdulillah.

Namun karena ribet ngurusin soal air ini kami jadi lupa untuk mencari makan malam. Untung snack-snack sisa dari trainingnya boleh dibawa sehingga ada sesuatu untuk mengganjal perut hingga esok hari.

Day 2

Hari ke-2. Saya gak banyak-banyak cerita juga sih (karena post ini ternyata sudah terlalu panjang). Intinya training hari itu adalah misi ke Bulan (WAW). Gimana caranya ngeluncurin satelit dari Bumi dengan suatu waktu dari suatu tempat sehingga bisa mengorbit ke Bulan dengan pas dan hemat energi. Hemat energi maksudnya ya ‘pas’ banget ke Bulannya, jadi thruster dari satelitnya dipakai secara efisien. Ternyata caranya seru namun saya gagal akibat terdistraksi oleh masuk angin yang membuat kepala pusing, mual-mual, dan ingat mamah di rumah (cupu pisan).

Sayangnya hari ini kita gak sempat ngeliat uji statik motor roket. Sebenarnya udah sempat dan ngelihat terus poto-poto motornya juga, tapi apa daya waktu istirahat trainingnya udah mau habis. Sayangnya poto-poto motor roket tersebut gak bisa ditampilkan disini karena saya sudah berjanji dengan Bapak-Bapak penjaga roketnya untuk tidak mengupload poto-poto tersebut ke dunia maya. Chu.

Sehabis training, kami pun makan malem bareng Pak De. Terus ngobrol-ngobrol di kontrakannya Pak De sampe malem. Cerita soal di LAPAN itu kayak gimana, sampe ngobrolin masa kecil. Random pisan lah. Untungnya dengan ngobrol-ngobrol ini bisa mengeluarkan angin-angin yang mandek di perut saya sehingga sampai mess saya sudah sehat dan bisa menghabiskan pecel lele yang dibungkus karena pada saat makan perut saya mual-mual. Terima kasih juga pada obat anti masuk angin.

Day 3

Hari ini banyak materinya, jadi ya kita cuma buka scenario yang udah jadi terus Pak Lowe menjelaskan ini untuk apa, ini fungsinya apa. Yang paling menarik (karena saya paling ngerti cuma yang ini), yaitu soal Repeat Ground Track Error. Jadi untuk Satelit yang mengorbit lateral terhadap bumi dalam suatu waktu untuk pencitraan (biasanya), ada errornya juga akibat perbedaan distribusi massa bumi yang mengakibatkan perbedaan distribusi dari gravitasi bumi juga. Di STK ini bisa ngitung errornya dan memberi cara agar kita gak lewat orbit yang diinginkan meskipun error itu tetep ada. Ribet yak? Tapi keren lho.

Selain itu ada scenario lain yang dijelasin, kayak ngehubungin Mathlab sama STK, atau Excel, atau ternyata kalau kita butuh suatu logic state juga bisa disempilin bahasa Basic lho. Ya begitulah dan seterusnya, hingga akhirnya training pun selesai dan Pak Lowe harus kembali ke kampung halamannya. Terima kasih, Pak.

Seiring kepulangan Pak Lowe, tentunya ada suatu pertanyaan yang menyelimuti pikiran kami bertiga, Lanjut ikut trainingnya atau nggak? Seperti yang udah dijelasin, training selanjutnya itu sama orang lain dan modulnya Communication. Meskipun kehidupan disini rada hardcore, saya sih oke-oke aja kalo pada mau lanjut training, Kak Gorly juga begitu. Tapi Kang Ardi ternyata mau pulang. Dia pun segera pulang saat maghrib ke rumah tantenya di Cisauk (tinggal naik angkot sekali dari Rumpin). Lhoh. Saya pun langsung berubah pikiran jadi pengen pulang juga. Walhasil besok siang saya dan Kak Gorly pulang ke Bandung naik travel ke BSD City.

Bermodalkan pengetahuan sedikit tentang medan perjalanan dan kami berdua pun sama-sama belum pernah ke daerah ini sebelumnya, kami pun nekat. Akhirnya setelah melalui perjalan hardcore yang bikin tenggorokan seret karena saking berdebunya, alhamdulillah kami bisa sampai di BSD City hingga akhirnya ke Pool Travel tujuan dan akhirnya Bandung. Huaaaahh…

Lalu esensi dari training ini apa?

Banyak.. Training ini jadi membuka pikiran saya. Bukan karena materi STKnya sih (plak), lebih ke kehidupan di sana. Gimana rasanya jadi pegawai LAPAN dengan lingkungan tempat kerja yang jauh dari peradaban begitu. Kami pun bingung, sebenarnya apa yang membuat pegawai LAPAN tetep mau bekerja di sana padahal diitungnya PNS juga kan. Lalu Pak De menjawab pertanyaan tersebut dengan jumawa:

Bekerja di LAPAN itu berarti mengabdi pada republik.

Wiss. Begitulah katanya. Yak. Sangat disayangkan yah. Padahal kalo negara ini dipimpin dengan pemerintahan yang bener, seharusnya sektor beginian tuh didanain besar-besaran. Lihat aja tuh NASA.. eh gak usah jauh-jauh deh, kita juga masih kalah sama ISRO (Indian Space Research Organisation) yang udah berhasil bikin dan meluncurkan satelitnya sendiri. Hal ini ngebuat saya geregetan.. Kenapa kok kenapa? Kenapa negara ini dipimpin oleh orang-orang yang bodoh? Karena rakyatnya juga mayoritas bodoh sehingga memilih pemimpin-pemimpin yang bodoh, begitu sih kata Bapak saya.

Saya pribadi menjadi merasa tertantang untuk kerja di LAPAN. Hemm-hemm. Ya lihat saja nanti. Biarkan Allah Ta’ala yang menuntun jalan dan nasip saya nanti.. Diberi kesempatan untuk menghabiskan liburan untuk training disini juga sudah merupakan nikmat Allah yang luar biasa. Hoho.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s