Mendingan WC Duduk Atau WC Jongkok?

Sebagai warga negara yang baik yang menggunakan fasilitas jamban setiap hari, tentunya kalian mempunyai kecenderungan khusus kepada dua entitas ini; WC duduk atau WC jongkok. Nah, untuk memenuhi rasa keingintahuan saya yang memuncak atas kasus ini, dimohon pertolongan untuk kalian yang telah berbaik hati memejret link blog saya untuk berpartisipasi dalam poll ini dengan jujur dan tulus hati. Yuk ah mari…

Eits, sebelum mengisi poll, alangkah baiknya jika saya beri gambarnya dulu biar kalian lebih bisa merasakan ‘jiwa’nya dan memilih dengan tekad yang bulat tanpa sedikitpun rasa kegalauan.

WC duduk, sepertinya di rumah seseorang.
WC jongkok di salah satu toilet antah berantah.

Gracias! Widado! Nah, selanjutnya ada beberapa fakta yang mengejutkan tentang WC duduk dan WC jongkok hasil swimming saya di internet. Mau tahu? Yuuuk.

Sebenernya cuma ada satu fakta mengejutkan aja sih yang baru saya dapet dari internet.. hehe. Nich!

Keseringan pakai WC duduk bisa menyebabkan beberapa penyakit usus

Dari beberapa artikel yang baru saya baca termasuk detikhealth.com, menurut pakar kesehatan, WC jongkok dapat menyebabkan usus bagian bawah tertekuk, sehingga proses BAB harus dilalui dengan effort mengeden (aka mengejan) yang lebih besar dibandingkan saat BAB di WC jongkok. Nah lo, gak ngerti. Iya sama saya juga. Nih ilustrasinya.

Karena ada bagian usus yang tertekuk, jalan keluarnya si feses yang seharusnya mulus bablas lancar kayak jalan tol cipularang kalo hari kerja, jadi tersendat-sendat ibarat jalan puncak bogor kalo lagi libur panjang. Hayo lo. Hal ini tentu saja tidak baik bagi kesehatan sang pengguna, karena sendatan itu bisa mengakibatkan adanya ‘feses yang tertinggal’. Waduh. Sayangnya, si feses adalah sejenis entitas yang susah move on, maka dari itu dia diem aja di beberapa tempat di usus tersebut, jadilah ia mengerak dan bisa menimbulkan beberapa penyakit usus seperti hemmorhoid (ambeien alias wasir), apendisitis, radang usus, bahkan kanker usus.

Daerah abu-abu, tempat persemayaman para feses yang susah move on.

Ngeri juga ya?

Nah. Sebenarnya saya sendiri termasuk sekte WC duduk, selain karena sudah dibiasakan dari kecil (rumah saya WCnya duduk terus sejak saya TK sampai sekarang), juga karena gak bikin pegel. Jujur saya sedih membaca fakta yang baru saya tulis di atas, bahwa WC jongkok lebih sehat dibanding WC duduk, hiks.

Namun bersedih hati tiadalah guna, mari kita simak keunggulan dan kekurangan WC duduk dan WC jongkok versi saya, agar kalian dapat lebih bijak menentukan masa depan nanti.

WC Duduk

  • Keunggulan
  1. Multitasking, bisa sambil belajar atau main game.
  2. Nyaman, sehingga pengguna cenderung melamun dan mager padahal BABnya sudah selesai.
  3. Sumber ide, karena membuat pengguna melamun atau brainstorming sehingga tiba-tiba ‘masuk’ lah ide baru sementara di bawah ada sesuatu yang ‘keluar’ (memenuhi kondisi equilibrium).
  4. Lebih bersih, jika digunakan sebagai toilet rumah karena letak p*nt*t kita jauh dari si lobang pembuangan.
  5. Cocok digunakan untuk segala usia, dari anak kecil hingga lansia yang mayoritas kondisi kakinya sudah tidak kuat jika harus jongkok.
  • Kekurangan
  1. Ada feses yang tertinggal, sehingga bisa menyebabkan beberapa penyakit usus (sudah dijelaskan di atas).
  2. Boros energi, lebih banyak mengeden (sudah dijelaskan di atas).
  3. Menjijikan, kalau digunakan sebagai toilet umum karena bisa menyebabkan menularnya bakteri yang ada pada kulit p****t satu pengguna ke pengguna lainnya.
  4. Adanya kontak langsung antara permukaan WC dan kulit p****t.

WC Jongkok

  • Keunggulan
  1. Hemat energi, mengeden seperlunya (sudah dijelaskan di atas).
  2. Tak ada feses yang tertinggal, semua feses berpindah ke lobang jamban, insyaAllah. Sehingga kemungkinan terkena penyakit usus lebih minim. (sudah dijelaskan di atas)
  3. Oke banget, jika digunakan sebagai toilet umum karena tidak menyebabkan tertularnya bakteri kulit pengguna satu dnegan lainnya.
  4. Higienis, tidak ada kontak langsung antara permukaan WC dan kulit pengguna.
  • Kekurangan
  1. Pegel, kaki kesemutan.
  2. Jarak antara tubuh dan lobang jamban sangat dekat, sehingga jika ada sesuatu yang jatuh pada kumpulan air di lobang akan menimbulkan ‘cipratan’ yang otomatis menyiprat ke tubuh kita. Tentu saja air yang menyiprat tadi tidaklah bersih (wong adanya juga di lobang jamban) sehingga memungkinkan menularnya beberapa bakteri kepada bagian bawah tubuh yang terpapar saat sedang nyetor.
  3. Eksklusif, hanya bisa digunakan oleh manusia yang cukup usia dan kondisi persendian plus kakinya masih sehat wal’afiat.

Jadi?

Jujur saya sendiri juga bingung. Sebenarnya WC duduk dan WC jongkok memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, tergantung kondisi pengguna. Saya sendiri, sebagai pengguna setia jamban sejak kurang lebih hampir 16 tahun (kira-kira saya mulai bisa BAB di jamban sejak 4 tahun) dengan alhamdulillaah kondisi sehat wal’afiat, sepertinya seharusnya menggunakan WC jongkok atas pertimbangan penyakit usus tadi. Tapi bagaimanapun jua kebiasaan memakai WC duduk telah terpatri sebegitu dalamnya pada diri saya, sehingga membuat diri ini sulit beralih. Namun alhamdulillaah, sekarang di rumah nenek saya tempat saya tinggal selama masih kuliah di Bandung ini, kamar mandinya ada dua, yang satu WC jongkok satu lagi WC duduk. Asalnya saya selalu menggunakan kamar mandi berWC jongkok sementara kamar mandi yang satunya selalu digunakan Oom saya, namun setelah mengetahui fakta tadi, saya akan bertekad menggilir dua kamar mandi tersebut. Kadang pakai WC jongkok, kadang pakai WC duduk. Uyeah. Untuk masa depan yang lebih cerah.

Kalo kamu, gimana?

Apakah pendirianmu tetap setelah membaca post saya ini? Apakah tadinya kamu yang pro WC duduk berubah ke WC jongkok atau malah sebaliknya? Atau malah jadi bingung? Atau malah jadi galau? Eits, jangan lebay gitu dong. Berikut ada solusi alternatif untuk orang yang tingkat kegalauan tentang dua dilemma WC ini sudah menuju tahap akhir:

WC jongkok-duduk, buat kamu yang labil pisan, karena bisa mengubah posisi nyetor tanpa harus pindah kamar mandi.

Notes: dari sisi engineering sebenarnya WC ini berbahaya alias memiliki safety factor yang rendah, karena strukturnya terlihat tidak meyakinkan apakah bisa menopang berat pengguna saat jongkok. Perlu diingat, distribusi berat yang ditopang WC saat duduk tentu jauh berbeda saat jongkok. Namun struktur WC tetap sama pada posisi manapun. Nah. Materialnya juga keramik yang getas, jika ada satu crack maka akan dengan cepat merambat ke struktur molekul lainnya sehingga saat overload akan dengan sangat cepat hancur. Saya sendiri tidak bertanggung jawab dan tidak menyarankan Anda untuk menggunakan WC model ini, selabil apapun Anda.

Sekian.

Advertisements

4 thoughts on “Mendingan WC Duduk Atau WC Jongkok?

  1. WC jongkok dapat menyebabkan
    usus bagian bawah tertekuk, sehingga proses
    BAB harus dilalui dengan effort mengeden
    (aka mengejan) yang lebih besar dibandingkan
    saat BAB di WC jongkok. Nah lo, gak ngerti.
    Iya sama saya juga. Nih ilustrasinya……

    =================================

    mohon di edit utk kalimat di atas….seharusnya anda menuliskan. …..WC-duduk….. malahn trtulis WC-jongkok….
    please….give it more attention:

    WC-duduk dapat menyebabkan
    usus bagian bawah tertekuk, sehingga proses
    BAB harus dilalui dengan effort mengeden
    (aka mengejan) yang lebih besar dibandingkan
    saat BAB di WC jongkok. Nah lo, gak ngerti.
    Iya sama saya juga. Nih ilustrasinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s