Tentang pelm: cin(T)a

Berhubung UAS tinggal satu dan sebenarnya itu juga udah beres (UASnya tugas kan),  jadi saya, gadis jelang usia 20 tahun yang tidak suka berhedon dan menghabiskan uang ini menghibur diri dengan cara yang bersahaja, menonton film di laptop. Alhamdulillaah teman-teman saya tidak pelit akan koleksi filmnya dan saya juga punya wadah filmnya, jadilah saya juga ikut mengoleksi.

Namun entah mengapa mood hari ini sedang sendu dan patah hati, jadi saya mencari film bergenre drama. Dari sekian folder yang ada, jatuhlah pilihan pada film berjudul cin(T)a. Pertama kali buka foldernya agak kaget juga sih ya.. bukan, bukan karena ternyata itu film horror, tapi karena ada folder lain berjudul ‘Fundamentals of Electric Circuit by Alexander Sadiku’ nyempil disitu. Entah maksudnya apa teman saya yang copyin ini. Mungkin waktu itu dia ingin saya jago elektro.

Lanjut ke filmnya. Sebeleumnya saya kasih fotonya dulu dah biar lebih asoy.

Yang matanya ‘belo’ itu jari milik si cewek, yang sipit milik si cowoknya.

Gak usah lah ya saya ceritain sinopsis dari cerita film ini, karena toh mayoritas udah pada nonton filmnya, cuma saya aja yang telat dan baru nonton film ini sekarang. (selalu aja)

Mulai nonton film ini, saya agak kaget ternyata pemeran utamanya ngekos di Taman Hewan. Loh. Beres nonton film ini, saya malah merasa, ini film propaganda mindset anak muda ya?

Ya, memang film ini memiliki nilai positif bahwa kita umat beragama harus saling bertoleransi. Bahkan ada satu scene dimana salah satu mesjid di daerah Taman Hewan lagi ceramah dan membacakan terjemahan salah satu ayat Qur’an tentang umat Islam yang wajib bertoleransi kepada umat agama lain. Ya, emang bener itu. Bagian yang itu bagus.

Setelah lanjut beberapa scene saya sadar akan satu ide yang dipertanyakan di film ini, ‘Mengapa Tuhan menciptakan kita berbeda-beda namun sebenarnya ia hanya ingin disembah dengan satu cara?’ kemudian disahut ide lain, ‘Karena itulah Tuhan menciptakan cinta, jadi yang berbeda-beda bisa jadi satu.’ Lalu saya melihat cuplikan beberapa pasangan yang beda agama namun bisa tetap menikah hingga bertahun-tahun bahkan ada yang sampai punya anak. Saya bertanya-tanya, apa sih maksudnya cuplikan-cuplikan ini? Kenapa yang pacaran atau nikah aja yang ditampilin yang beda agama? Kenapa gak dua orang tetangga deket beda agama namun tetap hidup rukun yang ditampilin? Nah!

Setelah saya pikirin lagi, kalo saya sambungin dua ide film tadi dan cuplikan tersebut.. saya bisa menemukan apa tujuan dari cuplikan tersebut ditampilin, versi saya. Nah. Di ide kedua, sepertinya cinta yang dibicarakan itu diinterpretasikan oleh si sutradara hanya sebagai cinta pada lawan jenis. Buktinya pada cuplikan yang ada cuma orang pacaran dan nikah aja yang beda agama, yang sahabatan (tapi sesama jenis) atau tetanggaan, gak ditampilin tuh. Sepertinya film ini menyiratkan, ‘hei, kalo kalian jatuh cinta sama orang yang beda agama, jangan malah menganggap itu negatif, justru cinta yang kamu miliki itu anugerah, karena bisa membuat yang berbeda jadi satu. Cinta yang kamu miliki itu bisa membawa perdamaian! Jadi pede aja lagi, toh banyak yang beda agama bisa tetap nikah. Nih, banyak contohnya..’ lalu cuplikan-cuplikan tersebut ditampilkan.

Bau-baunya sih ya agak pluralisme gituh. Juga sekulerisme. Kenapa? Karena menurut saya orang yang keukeuh pengen nikah tapi beda agama itu adalah orang yang sekuler (hanya mementingkan kepentingan duniawi). Ya, merekalah budak cinta, yang dibodohi dengan frasa ‘cinta sejati’. Seolah perasaan manusia ini full ditentukan oleh sesuatu di luar kuasanya. Jadi mereka berpikir ‘kalo udah cinta sama yang ini, ya udah gak bisa diganti sama yang lain.’  atau ‘di dunia ini tuh cuma dia yang bisa ngertiin aku, yang lain nggak.’ ya semacam itu lah. Padahal perasaan itu sesuatu yang mudah berubah dan bisa dikendalikan kalo punya tekad yang kuat. Karena sebenernya masih ada yang lebih penting dibanding duniawi, yaitu, kehidupan setelah mati. Jadi ya kita gak boleh terlena amat sama dunia ini. Eh! Tapi saya gak tau deng, apa semua agama mengajarkan kehidupan setelah mati. Ya pokoknya gitu lah.

Satu lagi, menurut saya, toleransi yang diajarkan di film ini itu toleransi yang kelewatan. Gak bener. Menurut saya, toleransi yang bener itu bisa dijalankan jika kedua belah pihak yang bertoleransi sudah menjalankan aturan agamanya masing-masing dengan benar terlebih dahulu. Hemmm. Soal si Cina, saya gak bisa analisis apa dia di film itu sudah menjalankan perintah agamanya dengan benar, karena agama saya beda sama dia. Kalo si Annisa.. dia itu STMJ (Sholat Terus Maksiat Jalan). Kan disitu dikisahin dia sering jalan sama cowok malem-malem.. Eh, gak usah sejauh itu sih. Dari dia yang sering berdua-duaan sama si Cina di rumah aja itu udah salah banget. Di dalam aturan Islam ini gak boleh. Ya iyalah. Gimana gak jatuh cinta kalo dibiarin berduaan di rumah terus begitu? Yang salahnya lagi, setelah jatuh cinta, mereka menemukan halangan yaitu benteng yang begitu tinggi, lalu mengatasnamakan aturan agamanya tentang bertoleransi antar umat beragama, jadi mereka masih ‘legal’ bareng terus, gitu. Ckckck. Mbok ya kalo ngikutin aturan agama itu jangan setengah-setengah, mbak e.. yang ada toleransinya malah jadi kelewatan.

Sedikit lagi, tentang ide yang pertama, ‘Mengapa Tuhan menciptakan kita berbeda-beda namun sebenarnya ia hanya ingin disembah dengan satu cara?’ ide ini sangat berbahaya kalo kamu adalah anak muda yang imannya gak terlalu kuat dan pola pikirnya terlalu mainstream. Kalo dipikir dengan cara biasa, pasti awalnya akan muncul pertanyaan, ‘iya juga ya, kenapa ya?’ lalu ‘ih kenapa Tuhan kok aneh sih?’ atau ‘ih kok Tuhan maruk sih pengen disembah terus?’, atau lebih ekstrim lagi, pelan-pelan kamu malah jadi apatis sama Tuhan, lalu beribadah karena takut sama surga-neraka aja, bukan karena kamu butuh sama Tuhan.

Namun alhamdulillaah saya adalah anak muda yang suka berpikir dengan cara tidak biasa. Ya meskipun awal respon saya berpikir secara biasa, namun setelah itu saya berpikir, ‘Ini adalah jebakan!’ Yak. Agak lebay, emang. Coba deh pikirin, emang apa bedanya manusia sama makhluk-makhluk lain di dunia ini? Punya akal. Terus punya akal buat apa? Ya buat mikir. Jadi, menurut saya Tuhan menciptakan kita berbeda-beda itu supaya kita mikir, mana cara yang paling tepat untuk menyembahnya itu, atau dengan kata lain, Tuhan nyuruh kita mikir untuk memilih agama mana yang paling benar dan Ia terima, karena balik ke statement tadi, sebenarnya cuma ada satu cara nyembah yang benar alias cuma ada satu agama yang benar.

Jadi?

Patuhi semua perintah agamamu dulu, baru bisa bertoleransi antar umat beragama dengan benar dan gak kelewatan. Kalo udah terlanjur terjebak ke dalam ‘cinta terlarang’ alias cinta beda agama, jangan terdoktrin film ini, tapi pikirin dulu dalem-dalem. Agama kamu sama agama dia mana yang menurutmu yang paling bener? Mana yang diterima di sisi Tuhan yang sebenarnya cuma ada satu ini? Mungkin aja ‘cinta terlarang’ ini adalah cara lain dari Tuhan untuk menuntun kamu ke agama yang paling benar, atau malah ‘cinta terlarang’ ini adalah ujian dari Tuhan apa kamu tetap bisa mempertahankan Dia dibanding kekasihmu itu (kalau dalam kasus agamamu adalah agama yang paling benar di sisi Tuhan). Kalo kamu pikir ternyata agama dia yang benar dan Tuhan sedang memberimu petunjuk, ya sudah, pindah agama aja dan menikahlah dengan dia. Kalo kamu merasa agamamu sudah paling benar dan Tuhan sedang memberikan ujian buat kamu, teguhkan hati, tinggalin dia, jangan dekati lagi.

Begitu aja sih.

Oh ya, saya disini sebagai muslim yang berusaha netral, ya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s