Kenapa ya orang suka overjudging sama orang yang berhijab?

Misalnya ada cewek  merokok. Soal cewek merokok di negara ini rasanya udah biasa ya, kalo yang tinggal di perkotaan, makanya sering dari kita bakal biasa aja kalo melihatnya di depan umum, paling komentar di dalem hati aja gitu, gak dilontarin komentarnya. Tapi apa yang terjadi kalau cewek yang merokok itu memakai hijab? Nah. Seringkali komentar kita dilontarkan. Biasanya kayak-kayak begini nih komentarnya, Ih itu cewek pake kerudung tapi ngerokok! atau komentar lain-lain yang biasanya sejenis.

Saya gak mendukung orang untuk merokok, saya gak mendukung cewek merokok, saya gak mendukung cewek berhijab untuk merokok, tapi yang saya ingin komentari disini adalah, kenapa kalau ada cewek berhijab merokok langsung dikomentari atau dipandang negatif banget sedangkan kalau cewek gak berhijab merokok, gak dipandang senegatif itu? Kenapa pandangannya gak adil? Padahal mereka sama-sama cewek dan sama-sama merokok.

Sebenarnya gak cuma merokok aja sih, banyak contoh lain yang jelek-jelek. Cuma saya mau ambil contohnya merokok. Hemm begitu juga dengan hal-hal jelek lainnya, kalau dilakukan oleh cewek berhijab aja, pasti komentarnya langsung berlebihan negatifnya.

Saya sendiri gak setuju tentang hal ini. Karena?

Memakai hijab itu hukumnya wajib bagi seorang muslimah. Udah ada di Surat An-Nur ayat 31. Yang namanya wajib berarti harus dikerjakan, kan? Sama kayak sholat fardu. Nah. Makanya sejelek-jeleknya kelakuan perempuan yang berhijab, setidaknya mereka telah menunaikan hal yang wajib. Kata guru agama saya waktu SMP, hal yang wajib itu ibarat angka 1 yang ditaro di depan, hal yang sunnah itu ibarat angka 0 yang ditaro dibelakang. Misalkan ada dua muslimah, yang satu gak berhijab (GH), yang satu berhijab (H). Si GH ini meskipun gak berhijab sering beramal, maka dicatatan pahalanya ditambahkan angka nol. Contoh ketika ia sudah beramal 5 kali, catatan amal dia 00000. Gak ada nilainya, kan? Beda sama si H. Meskipun dia berhijab tapi amalnya gak banyak-banyak amat kayak si GH. Contoh dia sudah beramal 1 kali, maka dicatatan amalnya 10. Nah. Meskpun lebih sedikit beramalnya tapi ada nilainya kan?

Satu lagi, mungkin penilaian berlebihan orang banyak ketika melihat orang berhijab melakukan sesuatu yang jelek, adalah mayoritas orang mikirnya gini:

Jilbabin dulu hatinya, baru jilbabin tuh kepalanya.

Ini adalah pemikiran yang sangat salah. Seperti yang sudah disebut tadi, hukum berhijab itu wajib. Sudah ada di Al-Qur’an. Syaratnya hanya dua, seorang muslimah dan sudah akil baligh. Gak ada tuh, harus dijilbabin dulu hatinya baru ‘pantes’ dijilbabin kepalanya. Gak ada! Karena sebenarnya iman kita ini selalu naik turun. Nunggu “hati kita berjilbab” mah kelamaan, takut-takut nanti malah keburu meninggal. Hih. Na’udzubillahiminzalik.

Dan sesungguhnya kalimat yang saya quote diatas hanyalah bisikan  setan agar seorang muslimah terus menunda dirinya untuk memakai hijab hingga nanti Allah Ta’ala mencabut nyawanya.

Jadi intinya sih, jangan overjudging sama cewek berhijab. Yang adil dong. Jangan beranggapan kalo hijab hanya boleh digunakan oleh perempuan yang kelakuannya udah bener. Justru hal ini akan membuat perempuan lain yang belum berhijab malah menunda-nunda memakai hijab. Ya saya juga bukannya mendukung perempuan yang berhijab untuk pede-pede aja melakukan hal yang gak bener, justru harusnya makin malu dan makin ingin memperbaikinya.

Pengalaman sendiri sih, dulu sebelum berhijab kelakuan saya masih gak bener. Rada preman, kalo ngomong nyakitin hati orang biasa aja, suka ngumpat-ngumpat kasar, tapi ketika datang niat berhijab terus saya berniat istiqomah berhijab, perlahan-lahan kebiasaan-kebiasaan buruk itu hilang. Jadi kalo menurut saya sih:

Hijabi dulu kepalamu, insyaAllah, seiring petunjuk dari Allah maka nanti hatimu sendiri akan berhijab.

Begitu.

Advertisements

10 thoughts on “Kenapa ya orang suka overjudging sama orang yang berhijab?

  1. Tahun 2010 lalu MUI hampir memfatwa bahwa rokok itu haram. Alasannya adalah karena rokok membuat kebergantungan (sama alasannya dengan napza dan alkohol), juga merusak organ tubuh.

    Untuk perbandingan, “Kalangan ulama dunia dalam Konfrensi Umat Islam Se-dunia yang dilakukan di Brunai memutuskan merokok itu haram. Malaysia sudah sejak lama memutuskan haram. Bahkan Singapura yang hanya 11 persen penduduknya Islam juga telah memfatwa merokok itu haram.” Kutipan ini saya ambil dari link source (lihat di bawah).

    Tapi fatwa saat ini yang dikeluarkan MUI tentang rokok adalah: “Merokok hukumnya dilarang, yaitu antara haram dan makruh”. Nah, di sini kerudung itu sudah mencirikan identitas muslimah, maksudnya, bila orang melihat wanita berkerudung pasti yang terpikirkan wanita tersebut adalah muslimah. Lalu pantaskah muslimah melakukan perbuatan yang (di sini hukumnya) mendekati haram?

    Pustaka: http://www.antara-sumbar.com/v3/berita/propinsi/d/1/13491/mui-fatwakan-merokok-hukumnya-dilarang-antara-makruh-dan-haram.html

    1. Iya Mas Ryo, memang benar kalau merokok itu merusak diri dan merugikan orang lain, saya juga mengakuinya. Saya juga disini tidak mendukung orang untuk merokok, apalagi muslimah yang merokok. Saya hanya tidak setuju dengan hujatan berlebihan dibanding ketika melihat perempuan tidak berkerudung melakukan perbuatan tercela yang sama (dalam contoh ini, merokok). Kenapa?
      Karena perilaku begitu seperti menyalahkan seseorang berdasarkan penampilannya (dalam hal ini kerudung), padahal hakikatnya semua orang memang tidak boleh merokok, atau melakukan perbuatan tercela yang melanggar norma-norma umum masyarakat lainnya, terlepas dari dia non muslim atau muslim, begitu.

      Memang benar seorang muslimah tidak pantas melakukan perbuatan tercela, akan tetapi, bukankah memang sebenarnya setiap manusia tidak pantas melakukan tindakan tercela? Mau dia muslim atau non muslim kek, tetap tidak boleh mencuri, kan?

      Terlebih lagi jika muslimah merokok itu mendengar hujatan berlebihan tersebut, syukur-syukur kalau dia mau tobat, tapi kalau dia malah jadi merasa tidak pantas dengan kerudungnya lalu melepasnya, gimana? Bukannya ini lebih gawat?

      Overjudging yang saya maksud ini adalah menghujat seseorang karena penampilannya, dalam contoh ini, menghujat seorang perempuan tidak pantas untuk merokok karena dia berhijab, padahal sebenarnya setiap perempuan bahkan setiap manusia pun tidak pantas merokok. Penilaian seperti ini menurut saya sangat subyektif dan tidak adil.

      Duh maaf ya beribet. Btw thanks udah jadi pengkomen pertama di blog saya ini 🙂

      1. Kayaknya contoh kasus ini salah deh. Bila orang bilang “Pakai kerudung tapi kok merokok?” Memangnya itu hujatan? Menurut saya gak, untuk lebih jelasnya silakan cek sendiri http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php

        Menurut gua ini sindiran. Kalau orang bilang “Pakai kerudung tapi kok merokok?” itu pasti tersiratnya “Seharusnya yang berkerudung tidak boleh merokok”. Ini semacam sindiran bukan hujatan.

        Negara kita ini negara beradab, bukan liberal. Kita juga punya norma kesopanan di sini. Seharusnya yang menyedihkan itu kenapa sedikit sekali mereka yang mau menasihati perempuan yang suka berpakaian lebih terbuka dan merokok. Karena apa? Karena lingkungan dia jarang memberikan nasihat akan itu, bahkan orang tuanya mungkin juga tidak memberikan nasihat. Karena itu dia dengan gampang berpakaian yang kurang menutup karena kurangnya pendidikan moral. Kenapa kalau cewek seperti ini jarang dinasihati? Ya karena lingkungannya seperti itu.

        Beruntunglah cewek yang tinggal di lingkungan yang mendukung dan perhatian padanya. Maka ia berkerudung. Kenapa cewek seperti ini (berkerudung) disindir jika merokok? Ya karena lingkungannya perhatian padanya.

        Memang kurang adil tapi sebenarnya yang patut dikasihani itu perempuan yang jarang mendapatkan nasihat moral. Jangan Anda mengartikan “jika cewek tak berkerudung dianggap biasa melakukan perbuatan tercela maka cewek berkerudung harusnya juga dianggap biasa melakukan perbuatan tercela”. Ini logikanya terbalik!

        Eh ya satu lagi. Saya kelahiran 93 kok, Tante. Jadi jangan panggil mas ya.

      2. Hmmm sepertinya Mas Ryo ini belum mengerti ya maksud dari komen saya sebelumnya apa. Mungkin memang saya salah menggunakan kata ‘hujatan’ karena sebenarnya ‘sindiran’, maaf saya memang tidak jago berbahasa dan bukan pengguna setia Kamus Besar Bahasa Indonesia, pilihan kata saya minim dan rawan salah arti, ya maaf saja ya.

        Nnggg.. gini deh, maksud komen saya sebelumnya itu, kenapa orang-orang yg menyindir perempuan yang merokok dan berhijab itu harus menyindir mereka karena hijabnya? Padahal sebenarnya setiap manusia itu tidak boleh merokok, lalu kenapa tidak menyindir mereka atas dasar hakikatnya sebagai manusia (terlepas dari manusia itu perempuan berhijab atau kagak).

        Saya sendiri sih, hidup di lingkungan dimana anggota lingkungannya ada yang tidak berhijab, merokok dan ada yang berhijab, merokok. Saya lihat di lingkungan saya ini lebih cenderung menyindir berlebihan perempuan yang berhijab dan merokok dibanding sebaliknya. Seolah menimbulkan pemahaman ‘perempuan yang berhijab tidak boleh merokok, kalau tidak berhijab boleh-boleh saja’, begitu. Ini yang sangat salah. Padahal pada hakikatnya semua manusia tidak boleh merokok, kan?

        Kalau contoh kasus saya salah, boleh saya minta contoh kasus yang benar menurut Mas Ryo sendiri? Saya yakin Mas Ryo bukan tipe pendemo yang bisanya nyalahin orang aja tapi gak punya solusi 🙂

        Loh kenapa gak mau dipanggil Mas karena lahir tahun 93? Memangnya Mas tahu saya lahir tahun berapa? Kalau saya lahir tahun 95, bukannya gak apa-apa memanggil Mas? Toh saya ada keturunan Jawa Tengah juga, mas kan artinya kakak 😀

        Btw salam kenal yah..

        =======================

        Oh iya ada yang kelupaan.

        “Jangan Anda mengartikan “jika cewek tak berkerudung dianggap biasa melakukan perbuatan tercela maka cewek berkerudung harusnya juga dianggap biasa melakukan perbuatan tercela”. Ini logikanya terbalik!”

        Loh siapa juga yang mengartikan seperti ini? Memang saya menulis begitu ya? Kalopun ada ini pasti hanya anggapan dari Ryo setelah membaca post saya, bukan pernyataan saya. Lagipula kan di post saya sendiri juga sudah ditulis:

        “Ya saya juga bukannya mendukung perempuan yang berhijab untuk pede-pede aja melakukan hal yang gak bener, justru harusnya makin malu dan makin ingin memperbaikinya.”

        Lain kali tolong dibedakan mana pernyataan saya dan mana pernyataan Ryo sendiri ya 😀

      3. Hmmm kamu bilang pilihan kata hujatan yang salah tapi judulnya saja overjudging. Kenapa kamu malah menantang? Saya memang belum menemukan kasus overjudging ke pada perempuan berkerudung tapi saya hanya menyatakan sepertinya kasus yang kamu angkat ini agak dibesar-besarkan, dan belum masuk katagori “over”judging (menurut saya).

        Saya tidak pernah ikut demo, kalau saya tidak mengerti akan suatu hal atau saya belum mengerti lebih baik saya tidak melakukan apa-apa. Oke, kamu langsung saja merendahkan saya. Kalau saya menebak kamu mungkin orang yang wataknya keras kepala.

        Saya tau kamu pasti lebih tua dari saya, dari foto sih kayaknya seusia tante saya tapi maaf ya kalau ternyata saya salah.

        Memang pada suatu paragraf kamu bembuat tulisan agar orang beranggapan bahwa kamu adalah orang yang netral. Tapi satu sisi lagi kamu seperti tidak terima bila untuk perbuatan yang sama, perempuan yang berkerudung lebih sengsara karena mendapatkan sindiran lebih banyak dibandingkan yang tidak berkerudung. Nah di sini saya tidak sepaham, justru menurut saya seharusnya yang lebih patut dikasihani itu adalah yang minim mandapatkan nasihat. Kan tadi saya bilang memang ini kurang adil tetapi yang seharusnya dikasihani itu yang jarang dinasihati.

        Jangan sampai kita beranggapan “Ah mereka yang tidak berkerudung tidak dinasihati, kenapa kalau kita yang berkerudung melakukannya selalu ditanggapi negatif? ini over, ini over”. Menurut saya justru pemikiran ini yang dapat membuat orang merasa semakin nyaman melakukan hal tercela.

        Eh ya hampir semua komen saya ini tidak ada rujukannya, ini hasil pemikiran saya. Maaf kalau ada salah.

      4. Judging itu artinya menghakimi. Kalau ditambah over berarti berlebihan dalam menghakimi. Berlebihan dalam menghakimi bukan berarti menghujat, karena hujatan itu berarti hinaan. Saya sudah meminta maaf atas kesalahan pemilihan kata di komen sebelumnya. Masalah soal ini beres, kan?

        Waduh. Jujur saya gak bermaksud menghina Mas Ryo, saya juga bingung bagian hinaan yang mana? Dari sisi mana saya menghina Mas Ryo? Saya kan bilang kalo saya yakin Mas Ryo bukan tipe pendemo yg bisanya nyalahin orang aja tapi gak bisa ngasih solusi. Dan ternyata bener kan Mas Ryo gak pernah ikutan demo (berarti bukan tipe pendemo)? Terus di bagian mana saya menghina? Jujur ya saya bingung o___o

        Soal tebakan Mas soal keras kepala.. Saya sendiri orangnya kurang suka menjudge karakter orang begini, begitu. Karena saya sadar kalo manusia itu selalu berubah. Gak ada di dunia ini orang yang baiiiiik terus, pasti ada kalanya dia jahat. Gak ada orang yang jahaaaat terus, pasti ada kalanya dia baik. Hanya Rasulullah SAW manusia yang konsisten baiknya di dunia ini.

        Saya baru mau 20 tahun kok. Memang muka saya tua, tapi gapapa yah tetep bersyukur aja soalnya yang penting masih normal.

        “Ah mereka yang tidak berkerudung tidak dinasihati, kenapa kalau kita yang berkerudung melakukannya selalu ditanggapi negatif? ini over, ini over”
        Iya memang benar pemikiran ini akan membuat orang semakin nyaman melakukan tindakan tercela, karena setelah lelah dengan judgement yang berlebih, perempuan berhijab akan melepaskan hijabnya, agar dia lebih nyaman melakukan perbuatan tercela, bukan?

        Hal ini menimbulkan pemahaman ‘perempuan yang tidak berhijab boleh aja melakukan tindakan tercela, sedangkan yang berhijab akan dihakimi oleh masyarakat.’ Ini yang saya takutkan, nanti lebih banyak perempuan yang makin gak ingin berhijab padahal hukumnya wajib lho.

        Yang saya concern kan di post ini, kenapa orang-orang gak menjudge atas dasar hakikatnya sebagai manusia (terlepas dari dia berhijab atau nggak)? Karena sebenarnya setiap manusia, di ajaran agama manapun, tidak diperbolehkan melakukan tindakan yang tercela dan merugikan orang lain.

        Soal menurut Mas lebih baik mengasihani orang yang jarang dinasihati, ya itu menurut Mas, disini saya sedang membahas overjudging orang yang berhijab, kalo Mas menganggap isu itu lebih penting, silahkan Mas bikin post tentang isu itu sendiri ^__^

  2. Nggak ada sangkut pautnya merokok dan berhijab, HIJAB itu WAJIB hukumnya untuk wanita sama halnya dengan sholat 5 waktu. Apa wanita atau pria yang merokok tapi solat nya dijaga dengan baik akan lebih buruk dari yang tidak merokok tapi gak pernah sholat atau sholatnya belang bonteng*tandatanya.

    Merokok atau tidak, pria dan wanita muslim wajib sholat. merokok atau tidak wanita muslimah wajib berhijab

    merokok memang sebuah kebiasaan buruk yang harus dihilangkan terlepas pelaku berhijab atau tidak. pandangan buruk terhadap perokok itu STIGMA yang sudah melekat. Namun, tidak dibenarkan juga untuk menilai perokok lebih rendah dari yang tidak merokok.

    Intinya, apabila hijab digunakan berdasarkan niat untuk lebih dekat dengan tuhan dan melangkah ke arah yang lebih baik, maka perlahan kebiasaan dan sifat biasanya mengikuti (walaupun dengan proses yang lama).

    Manusia tidak ada yang sempurna..menyindir tidak menjadikan orang yang melakukannya mulia dimata allah dan belum tentu yang menyindir lebih baik dari yang disindir.yang pasti menyakiti hati orang yang disindir itu lebih besar kemungkinannya.

    Saya perokok, dan sudah bertahun-tahun rokok menghalangi saya untuk berhijab, Setelah saya berhijab, alhamdulillah saya lebih berhasil mengurangi rokok lebih banyak dibandingkan saya tidak berhijab. Walaupun belum 100% hilang kebiasaan buruk ini, tapi setidaknya saya merasa lebih baik dari sebelumnya dan terus berusaha untuk menghilangkan(insyaallah)

  3. kok saya lihat sekarang kebalikannya ya mbak? justru cewek berhijab yg kaya preman, mereka jadi terkesan egois ga menerima wanita yang ga berhijab atau pake baju ketat, kebanyakan yg berhijab suka menghujat hal2 seperti itu. menurut saya tiap manusia bebas memilih jalan hidupnya.. berhijab tapi hobi menghujat sama aja bohong. mau dibilang tutup dulu kepalanya atau apalah.

    orang punya jalan yang berbeda, di indonesia juga terlalu colorful kita hidup dengan segudang perbedaan. jadi jangan memandang wanita “ketat” sebelah mata, saya paham betul kehidupan asli mereka seperti apa, ada banyak hal yang bisa dipelajari dari perbedaan

  4. Jilbab adalah identitas wanita
    Islam, mahkota yang harus di junjung tinggi.
    Jika seorang wanita telah memutuskan untuk
    berjilbab, maka ia harus siap dengan segala
    konsekuensinya. Siap menjaga sikap dan
    perilakunya. Sebab, jika seorang wanita
    berjilbab melakukan hal-hal yang tidak
    semestinya, maka yang dituding bukan hanya
    diri wanita itu, tetapi jilbab dan Islam.
    Contohnya, jika seorang wanita berjilbab
    merokok di tempat umum, maka masyarakat
    akan berkata “Kok pakai jilbab merokok ?”
    Jilbab dan Islam mendapat kesan negatif.
    Terlepas dari segala argument tentang hak asasi
    seseorang untuk bebas melakukan apapun
    sepanjang tidak mengganggu kepentingan
    orang lain, wanita yang telah memutuskan
    untuk berjilbab hendaknya menjaga adab
    perilaku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s